Menu

Mode Gelap
Ubah Sampah Jadi Berkah hingga Go Digital, Puluhan Pesantren NU di Purworejo Ikuti Sarasehan RMI NU PMII Imam Puro Gelar Sekolah Aswaja 2026, Cetak Trainer Ideologi di Era Digital Ngaji Budaya Wayang Santri di MWCNU Kutoarjo Kupas Filosofi Lir-Ilir Pelantikan MWCNU Kutoarjo dan Muslimat NU Semawung Kembaran Teguhkan Komitmen Khidmah dan Kemanfaatan bagi Masyarakat Ansor Goes to Japan! Program Baru PC Ansor Purworejo Bidik Peluang Kerja Internasional Atap Rumah Sahabat Ansor Runtuh, Tim Media NU Purworejo Ajak Masyarakat Ulurkan Tangan

Berita

Lesbumi PCNU Purworejo Dorong Konservasi “Living Heritage” dalam Tuladha #6 di Semagung

badge-check


					Lesbumi PCNU Purworejo Dorong Konservasi “Living Heritage” dalam Tuladha #6 di Semagung Perbesar

PURWOREJO – Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PCNU Kabupaten Purworejo kembali menggelar Diskusi Kebudayaan Selapanan Setu-Pahingan bertajuk Tuladha #6 dengan tema “Living Heritage: Membaca Menoreh sebagai Tubuh Berlapis”. Kegiatan berlangsung di Balai Budaya Pasareyan Eyang Lowo Ijo, Desa Semagung, Kecamatan Bagelen, diikuti lebih dari 120 peserta dari masyarakat, pelajar, akademisi, pegiat budaya, hingga perwakilan Pemerintah Daerah, Sabtu 25/4/2026.

Diskusi dipandu sejarawan muda Purworejo, Bagas Pratyaksa Nuraga, dengan menghadirkan Lengkong Sanggar Ginaris (Arkeolog, Ketua TACB Purworejo) dan Fathul Wachid (Pamong Budaya Dindikbud Purworejo).

Salah satu sorotan utama adalah temuan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) berupa stamba atau “Watu Lonthong” di Dusun Semagung Wetan, yang diduga berasal dari era Mataram Kuno abad ke-8 hingga ke-10. Kondisinya dinilai memprihatinkan karena terancam gerusan sungai dan tertimpa material batu besar.

“Heritage harus dipahami sebagai sesuatu yang hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar moderator Bagas Pratyaksa.

Konsep living heritage ditegaskan sebagai upaya menghidupkan kembali nilai budaya agar tidak berhenti sebagai benda statis, melainkan menjadi sumber pembelajaran, identitas, dan potensi ekonomi masyarakat.

Kabid Kebudayaan Dindikbud Purworejo, Agung Setiyono, menyampaikan komitmen pemerintah untuk melakukan survei lanjutan dan menganggarkan penyelamatan stamba pada tahun mendatang.

“Kami juga akan mengusulkan Peraturan Daerah tentang Cagar Budaya pada tahun 2027 guna memperkuat payung hukum pelestarian,” jelasnya.

Ketua PCNU Purworejo, KH. Muhammad Haekal, menegaskan komitmen NU untuk mengawal hasil diskusi agar tidak berhenti pada wacana.

“Tuladha harus menjadi gerakan nyata, bukan sekadar forum diskusi. NU siap mendampingi masyarakat dalam menjaga warisan budaya,” tegasnya.

Sebagai bentuk kepedulian lingkungan, kegiatan ini juga diisi dengan penanaman pohon ficus di bantaran sungai sekitar lokasi acara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ubah Sampah Jadi Berkah hingga Go Digital, Puluhan Pesantren NU di Purworejo Ikuti Sarasehan RMI NU

17 Mei 2026 - 17:42 WIB

PMII Imam Puro Gelar Sekolah Aswaja 2026, Cetak Trainer Ideologi di Era Digital

16 Mei 2026 - 19:40 WIB

Ngaji Budaya Wayang Santri di MWCNU Kutoarjo Kupas Filosofi Lir-Ilir

3 Mei 2026 - 23:57 WIB

Pelantikan MWCNU Kutoarjo dan Muslimat NU Semawung Kembaran Teguhkan Komitmen Khidmah dan Kemanfaatan bagi Masyarakat

3 Mei 2026 - 22:24 WIB

Ansor Goes to Japan! Program Baru PC Ansor Purworejo Bidik Peluang Kerja Internasional

3 Mei 2026 - 19:12 WIB

Atap Rumah Sahabat Ansor Runtuh, Tim Media NU Purworejo Ajak Masyarakat Ulurkan Tangan

1 Mei 2026 - 14:12 WIB

Trending di Berita