Purworejo – Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (RMI PWNU) Jawa Tengah melaksanakan program Sambang Pesantren bertema “RMI Hadir untuk Pesantren dan Madin” pada Senin (18/8/2025) bertepatan dengan 25 Safar 1447 H. Kegiatan ini dipusatkan di Pondok Pesantren Nurussalaf Kemiri, Purworejo, dan diikuti jajaran pengurus RMI PWNU, RMI PCNU Purworejo, serta para pengasuh, pengurus, dan santri pondok pesantren.
Program Sambang Pesantren dirancang sebagai forum strategis untuk memperkuat koordinasi, konsolidasi, dan silaturahmi antarpesantren. Selain itu, forum ini juga menjadi sarana menyampaikan edukasi terkait isu-isu strategis dunia pesantren, mulai dari regulasi, pola pengasuhan, kemandirian ekonomi, hingga peran media.

Rombongan disambut hangat oleh Pimpinan Pondok Pesantren Nurussalaf Kemiri, Kyai Muhammad Tafsir Iman, bersama Ketua RMI PCNU Purworejo, KH. R. M. Amir Kilal, S.Ag.
Pesan Tegas dari PCNU Purworejo
Dalam kesempatan itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Purworejo, KH. M. Haekal, S.Pd.I. menegaskan komitmen PCNU Purworejo dalam menjaga keberlangsungan pendidikan diniyah di Kabupaten Purworejo. Menurutnya, PCNU Purworejo bersama lembaga terkait, diantaranya RMI NU Purworejo, LDNU Purworejo, dan LP Ma’arif serta Lembaga terkait lainnya, telah melakukan kajian mendalam mengenai dampak kebijakan 5 (lima) hari sekolah.
“Kami menilai, jika kebijakan sekolah 5 (lima) hari sekolah diterapkan di Purworejo, maka akan berdampak besar bagi peserta didik dan keberlangsungan madrasah diniyah. Karena itu, PCNU Purworejo akan terus mendorong pemerintah daerah agar lebih arif dalam merumuskan kebijakan pendidikan dengan tetap memperhatikan eksistensi madrasah diniyah,” tegasnya.
Ia menambahkan, madrasah diniyah adalah salah satu pilar pendidikan akhlak dan keagamaan yang harus dijaga agar generasi muda tidak kehilangan akar tradisi keilmuan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.
Penegasan RMI Jawa Tengah
Sementara itu, Ketua RMI PWNU Jawa Tengah, KH. Ahmad Fadlullah Turmudzi, menjelaskan bahwa program Sambang Pesantren merupakan bentuk nyata kehadiran RMI dalam merawat pesantren sekaligus merespons dinamika zaman.
“Melalui Sambang Pesantren, kami ingin memastikan bahwa pesantren tidak berjalan sendiri. Ada pendampingan, ada ruang konsolidasi, ada forum berbagi pengalaman dan solusi. RMI hadir untuk menguatkan pesantren, baik dari sisi kelembagaan, pengasuhan, ekonomi, maupun adaptasi dengan era digital,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa RMI berkomitmen menjadikan forum ini sebagai wadah untuk memperkuat posisi pesantren dalam membangun kemandirian bangsa.

Isu Strategis di Forum Komisi
Untuk memperdalam pembahasan, forum dibagi menjadi empat komisi:
– Komisi A membahas konsolidasi dan koordinasi kelembagaan serta pemetaan isu-isu strategis dunia pesantren dan madin.
– Komisi B menyoroti regulasi pengasuhan serta penguatan kemandirian ekonomi pesantren.
– Komisi C mengupas isu digitalisasi, khususnya peran media sosial dalam dakwah dan penguatan citra pesantren.
– Komisi D menghadirkan ceramah motivasi bagi santri tentang semangat belajar di era digital, kepemimpinan, dan inspirasi dari kiprah alumni pesantren.
Melalui diskusi mendalam di tiap komisi, diharapkan lahir gagasan konkret untuk memperkuat pesantren sebagai benteng moral, pusat keilmuan, dan motor penggerak peradaban.
Pesan Kebersamaan
Hadir dalam acara ini KH. Noor Machin Chuldori (Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah), Rois Syuriah PCNU Purworejo KH. R. Dawud Masykuri, serta jajaran pengurus PCNU Purworejo bersama lembaga dan badan otonom NU.
Dengan spirit Merawat Jagad, Membangun Peradaban, kegiatan Sambang Pesantren menjadi bukti nyata kehadiran RMI PWNU Jawa Tengah bagi pesantren dan madrasah diniyah, khususnya di Kabupaten Purworejo.






