Purworejo, WARTA NAHDLIYIN – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Purworejo kembali menggelar forum budaya bertajuk Tuladha#2 dengan tema “Dolalak: Membincang Naskah, Sejarah, dan Peralihan Nilai”, pada Jumat (31/10/2025) malam di Pendopo Kecamatan Purworejo.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 19.00 hingga 23.15 WIB ini menjadi ruang perjumpaan lintas generasi antara seniman, budayawan, dan masyarakat umum. Melalui pendekatan Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah, Tuladha hadir sebagai laboratorium ngolah rasa — wadah refleksi dan eksplorasi artistik yang berupaya merawat, mengkaji, serta memaknai ulang narasi kebudayaan dan seni tradisi lokal Purworejo.

Rangkaian acara dimulai dengan tahlil, soyar maole, mahalul qiyam, serta penampilan musik dan tari oleh Gigih Tata Buana Surya, S.Sn. (Bidang Seni Pertunjukan Lesbumi Purworejo) dan Sudrajat Dewandana, S.Sn. (seniman tari).
Bagian utama kegiatan diisi dengan diskusi bertajuk “Dolalak: Membincang Naskah, Sejarah, dan Peralihan Nilai” bersama narasumber Ahzadiyanti, pewaris risalah atau naskah Dolalak Katerban, dengan moderator Mastri Imammusadin, S.H.
Merawat Dolalak sebagai Warisan Adiluhung Purworejo
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Yudhie Agung P., menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif Lesbumi melalui kegiatan Tuladha.
“Tuladha menjadi sarana silaturahmi masyarakat seni budaya, ulama, dan umara. Dolalak adalah salah satu kesenian khas Purworejo yang harus kita rawat bersama. Untuk itu, perlu kolaborasi semua pihak agar kesenian ini terus lestari dan berkembang,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, ruang dialog seperti Tuladha penting sebagai media pertemuan antara pelaku seni, pemerhati budaya, ulama, dan pemerintah.
“Semoga ruang-ruang seperti ini terus tumbuh dan hadir di kesempatan berikutnya,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Purworejo, KH Haikal, turut hadir dan memberikan apresiasi atas upaya Lesbumi dalam merawat khazanah seni tradisi dengan pendekatan dakwah kebudayaan.
Dalam pernyataannya, beliau menegaskan pentingnya menjadikan kebudayaan sebagai media dakwah yang menggugah kesadaran spiritual dan sosial masyarakat Purworejo.
Tuladha: Ikhtiar Budaya Berbasis Aswaja
Wakil Ketua Lesbumi PCNU Purworejo, Achmad Fajar Chalik, menjelaskan bahwa Tuladha adalah ruang kaji rasa yang menekankan asas kebermanfaatan bagi umat.
“Tuladha hadir sebagai laboratorium seni dan media dakwah dengan pendekatan Ahlussunnah wal Jamaah. Kami berupaya membuka ruang refleksi budaya dan cipta kaji dalam konteks kekinian,” ungkapnya.
Terkait kesenian Dolalak, Fajar menekankan pentingnya kesadaran kolektif untuk menjaga, merawat, dan mengembangkan warisan adiluhung tersebut.
“Dolalak tidak sekadar tontonan, melainkan tuntunan. Dalam syair-syairnya terkandung petuah dan nilai moral yang luhur. Lesbumi berkomitmen menjadi jembatan bagi para pelaku seni, peneliti, dan masyarakat untuk terus menafsir ulang makna Dolalak dalam semangat zaman,” tambahnya.
Dihadiri Lintas Komunitas dan Kalangan Akademisi
Acara yang digagas Lesbumi PCNU Purworejo ini dihadiri oleh berbagai elemen, antara lain KH Haikal (Ketua Tanfidziyah PCNU Purworejo), Yudhie Agung P. (Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo), Dr. Sudibyo, M.Hum (Fakultas Ilmu Budaya UGM), serta pengurus harian PCNU, lembaga, dan banom NU.
Selain itu hadir pula perwakilan dari LSBO PD Muhammadiyah, Dewan Kesenian Purworejo (DKP), BAUR, Jurnal Lelana, Fermenta Sinema, Forum Film Purworejo, Teater Surya, Komunitas Teater Purworejo, IPNU-IPPNU, Sanggar Mardika, Surau Art Gallery, Republik Sepur, serta lintas kampus seperti STAINU, STAIAN, Ma’had Aly, UMP, dan STIE Rajawali.
Turut pula para pelaku kesenian Dolalak seperti Bu Eni (Dolalak Arum Sari), Bapak Jono (Dolalak Budi Santosa), Mbak Ahzadiyanti, dan Pak Wagino (budayawan Purworejo).
Rangkaian kegiatan Tuladha#2 ditutup dengan doa bersama, sebagai penanda bahwa kebudayaan dan spiritualitas dalam tradisi NU adalah dua sisi yang saling menguatkan.
Merawat Tradisi, Menumbuhkan Kesadaran
Melalui Tuladha, Lesbumi PCNU Purworejo meneguhkan posisinya sebagai penjaga warisan budaya dan penggerak kesadaran estetik-spiritual masyarakat.
Forum ini menjadi contoh nyata bagaimana dakwah Aswaja dapat hadir dalam wujud seni, dialog, dan penghayatan rasa — mengikat antara nilai, sejarah, dan masa depan kebudayaan Islam Nusantara.







