Menu

Mode Gelap
STAINU Purworejo Jalin Kerja Sama Akademik dengan Hartford International University AS Upgrading Pengurus MWCNU Kutoarjo, Ketua PCNU Purworejo Tegaskan 3 Kewajiban Pengurus NU: Amanat, Keutuhan, dan Pertanggungjawaban Meneladani Akhlak Nabi, Warga Ketaon Semarakkan Maulid di Masjid Miftahul Ishlah Maulid Nabi di Winonglor, Sirah Nabawiyah Disampaikan Lewat Suluk Dalang Santri Dari Kemadulor, MWCNU Kutoarjo Serukan Warga NU Ikut Ngopeni Negeri MWC NU Pituruh Gelar Donor Darah Rutin, Wujud Kepedulian Sosial kepada Masyarakat

Berita

Upgrading Pengurus MWCNU Kutoarjo, Ketua PCNU Purworejo Tegaskan 3 Kewajiban Pengurus NU: Amanat, Keutuhan, dan Pertanggungjawaban

badge-check


					Upgrading Pengurus MWCNU Kutoarjo, Ketua PCNU Purworejo Tegaskan 3 Kewajiban Pengurus NU: Amanat, Keutuhan, dan Pertanggungjawaban Perbesar

KUTOARJO, – Menjadi pengurus Nahdlatul Ulama bukan sekadar menerima jabatan atau tercatat dalam struktur kepengurusan. Ada amanat organisasi yang harus dijalankan, keutuhan jam’iyah yang harus dijaga, serta tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.

Pesan itu ditegaskan Ketua PCNU Purworejo, KH Muhammad Haekal, S.Pd.I., saat memberikan pengarahan dalam kegiatan Upgrading Pengurus MWCNU Kutoarjo di Gedung MWCNU Kutoarjo Lantai 3, Ahad malam (23/8/2026).

Dalam arahannya, KH Muhammad Haekal secara khusus mengingatkan agar persoalan pribadi maupun ketidakcocokan dengan sesama pengurus tidak menjadi alasan untuk menjauh dari Nahdlatul Ulama.

“Jangan sampai karena ada ketidakcocokan dengan pengurus, kemudian kita menjauh dari NU. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai meninggalkan jam’iyah,” tegasnya.

Menurutnya, perbedaan pandangan dan dinamika dalam organisasi merupakan sesuatu yang wajar. Namun, setiap pengurus harus mampu menempatkan kepentingan jam’iyah di atas persoalan pribadi.

Sebab, Nahdlatul Ulama bukan milik satu orang atau kelompok tertentu. NU merupakan jam’iyah yang dibangun melalui perjuangan panjang para ulama dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Kegiatan upgrading tersebut dihadiri Rais Syuriah MWCNU Kutoarjo Kiai Fauzi Ahmad Sahin, Ketua Tanfidziyah MWCNU Kutoarjo KH Ahmad Wahidin, S.Pd.I., jajaran pengurus harian dan lembaga di lingkungan MWCNU Kutoarjo.

Turut mendampingi Ketua PCNU Purworejo, Sekretaris PCNU Purworejo M. Churdaini, S.Pd.I., M.Pd., serta Wakil Ketua PCNU Purworejo Drs. H. Fatkhurohman, M.M.

Tiga Kewajiban Pengurus NU

KH Muhammad Haekal menegaskan, sedikitnya terdapat tiga kewajiban mendasar yang harus dipahami dan dijalankan oleh setiap pengurus NU, yakni menjalankan amanat organisasi, menjaga keutuhan jam’iyah, dan mempertanggungjawabkan amanat yang telah diberikan.

1. Menjalankan Amanat Organisasi

Kewajiban pertama adalah menjalankan amanat dan ketentuan organisasi sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Menurut KH Muhammad Haekal, seorang pengurus tidak cukup hanya tercatat dalam struktur kepengurusan. Setiap pengurus harus mengambil peran dan memastikan tugas yang diamanatkan benar-benar dijalankan.

“Menjadi pengurus itu amanat. Maka amanat itu harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab,” pesannya.

Baginya, kepengurusan bukan sekadar posisi atau status. Setiap bidang, lembaga, dan jajaran pengurus memiliki tanggung jawab untuk memastikan roda organisasi berjalan serta perjuangan NU terus memberikan kemanfaatan bagi umat.

Mengurus NU, kata dia, berarti ikut menyambung perjuangan yang telah dirintis oleh para ulama dan para muassis.

2. Menjaga Keutuhan Jam’iyah

Kewajiban kedua adalah menjaga keutuhan organisasi, baik dalam kehidupan internal maupun dalam menjaga marwah NU di tengah masyarakat.

Pada bagian inilah KH Muhammad Haekal memberikan penekanan kuat kepada para pengurus. Perbedaan pandangan, ketidakcocokan, dan dinamika antarindividu tidak boleh berubah menjadi alasan untuk meninggalkan organisasi.

“Jangan sampai karena ada ketidakcocokan dengan pengurus, kemudian kita menjauh dari NU. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai meninggalkan jam’iyah,” ujarnya.

Menurutnya, NU tidak boleh dipersempit hanya pada figur-figur yang sedang menduduki jabatan dalam satu periode kepengurusan.

NU jauh lebih besar daripada kepentingan pribadi, perbedaan pandangan, maupun persoalan antarindividu.

Karena itu, setiap persoalan harus diselesaikan melalui komunikasi, mekanisme organisasi, dan semangat menjaga persaudaraan.

Ia juga mengingatkan agar pengurus tetap menjaga arah perjuangan NU dan tidak membiarkan kepentingan pribadi maupun kelompok masuk hingga melemahkan jam’iyah.

“Tidak semua yang mengaku warga NU atau peduli NU memiliki niat yang sama. Pengurus harus memahami dan menjaga arah perjuangan organisasi agar NU tidak dimanfaatkan untuk kepentingan yang justru membahayakan jam’iyah,” ujarnya.

Dalam menghadapi berbagai persoalan, KH Muhammad Haekal mengajak seluruh pengurus untuk tetap menjadikan pandangan mayoritas ulama NU sebagai salah satu pijakan dalam menjaga arah dan kebersamaan organisasi.

3. Mempertanggungjawabkan Amanat

Kewajiban ketiga adalah menyampaikan pertanggungjawaban atas amanat yang telah diberikan melalui mekanisme dan forum permusyawaratan organisasi sesuai tingkat kepengurusannya.

Menurut KH Muhammad Haekal, setiap program, kegiatan, kebijakan, dan tugas yang dijalankan pengurus harus dapat dipertanggungjawabkan secara organisasi.

Pertanggungjawaban tersebut penting, bukan hanya sebagai bentuk keterbukaan, tetapi juga menjadi bahan evaluasi dan pijakan untuk melanjutkan perjuangan organisasi.

Dengan demikian, mengurus NU tidak hanya membutuhkan semangat dan keikhlasan, tetapi juga disiplin serta kesediaan untuk mempertanggungjawabkan setiap amanat.

Khidmah membutuhkan keikhlasan, tetapi organisasi juga membutuhkan keteraturan dan pertanggungjawaban.

Khidmah Menyambung Perjuangan Para Ulama

Lebih lanjut, KH Muhammad Haekal menekankan bahwa ketiga kewajiban tersebut harus dijalankan dengan semangat khidmah.

Mengurus NU, menurutnya, bukan sekadar menjalankan program kerja atau menghadiri rapat. Kepengurusan merupakan jalan pengabdian kepada jam’iyah sekaligus upaya menyambung perjuangan para ulama.

Ia kemudian mengingatkan dawuh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang selama ini menjadi penguat semangat warga NU dalam berkhidmah.

“Barangsiapa yang mau mengurus NU akan aku anggap sebagai santriku. Siapa yang menjadi santriku akan kudoakan husnul khatimah beserta anak-cucunya.”

Menurut KH Muhammad Haekal, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa orang yang bersungguh-sungguh mengabdi kepada NU sejatinya sedang mengambil bagian dalam menyambung mata rantai perjuangan para ulama.

Semangat itu, lanjutnya, juga sejalan dengan pesan KH Mohammad Hasan Genggong, Probolinggo:

من أعان نهضة العلماء، فقد سعد في الدنيا والآخرة

“Barang siapa yang menolong Nahdlatul Ulama, maka ia akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan di NU tidak semata-mata berbicara tentang keuntungan materi maupun kepentingan pribadi. Keikhlasan dan pengabdian harus menjadi fondasi utama dalam menjalankan amanat organisasi.

KH Muhammad Haekal juga mengingatkan pesan KH Ridwan Abdullah (Pencipta Lambang NU) tentang keyakinan dalam berkhidmah.

“Jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah! Kalau sampai tidak makan, komplainlah aku jika aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati, maka tagihlah ke batu nisanku!”

Menurutnya, pesan tersebut bukan berarti mengurus NU menjanjikan keuntungan materi. Namun, seorang pengurus harus memiliki keyakinan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus untuk kemaslahatan jam’iyah dan umat tidak akan sia-sia.

Dengan demikian, khidmah kepada NU bukan hanya membutuhkan keikhlasan, tetapi juga keyakinan, kesungguhan, dan kesiapan untuk menjalankan amanat hingga dapat dipertanggungjawabkan.

MWCNU Kutoarjo Perkuat Konsolidasi

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah MWCNU Kutoarjo KH Ahmad Wahidin, S.Pd.I., mengajak seluruh jajaran pengurus untuk semakin meningkatkan semangat berkhidmah dan menjaga kekompakan dalam menjalankan roda organisasi.

Ia menyebut MWCNU Kutoarjo terus membangun ruang silaturahmi dan konsolidasi melalui sejumlah agenda rutin, di antaranya Lailatul Ijtima’ setiap malam Kamis Kliwon serta Selapanan Ahad Kliwon yang dilaksanakan secara bergilir di ranting-ranting NU se-Kecamatan Kutoarjo.

Menurutnya, agenda tersebut bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan sarana memperkuat hubungan antara MWCNU dengan ranting-ranting, sekaligus menjaga komunikasi dan kebersamaan warga NU.

“Pengurus harus semakin giat berkhidmah. Kekompakan harus terus dijaga karena NU yang kuat dibangun melalui kerja bersama, bukan oleh satu atau dua orang,” ujarnya.

Rais Syuriah MWCNU Kutoarjo Kiai Fauzi Ahmad Sahin juga mengajak seluruh jajaran untuk terus menyambung semangat perjuangan para muassis dengan menjaga persatuan, tradisi, dan keberlangsungan jam’iyah. Ia juga mengajak warga NU mengikuti pembukaan Muktamar Nahdlatul Ulama di Jombang yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Agustus 2026. Jamaah juga diajak berziarah ke makam para pendiri NU sebagai bagian dari upaya mengenang sejarah dan perjuangan para pendiri organisasi.

Bagi jajaran MWCNU Kutoarjo, kegiatan upgrading tersebut menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman organisasi sekaligus meneguhkan komitmen dalam menjalankan amanat kepengurusan.

Sebab, menjadi pengurus NU bukan sekadar menempati posisi dalam struktur organisasi. Ada amanat yang harus dijalankan, keutuhan jam’iyah yang harus dijaga, dan pertanggungjawaban yang harus ditunaikan.

Tiga kewajiban itulah yang menjadi fondasi penting agar khidmah para pengurus tidak berhenti pada jabatan, tetapi benar-benar menjelma menjadi kerja organisasi yang menjaga keberlangsungan perjuangan Nahdlatul Ulama dari generasi ke generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

STAINU Purworejo Jalin Kerja Sama Akademik dengan Hartford International University AS

24 Agustus 2026 - 09:10 WIB

Meneladani Akhlak Nabi, Warga Ketaon Semarakkan Maulid di Masjid Miftahul Ishlah

19 Agustus 2026 - 22:08 WIB

Maulid Nabi di Winonglor, Sirah Nabawiyah Disampaikan Lewat Suluk Dalang Santri

19 Agustus 2026 - 18:49 WIB

Dari Kemadulor, MWCNU Kutoarjo Serukan Warga NU Ikut Ngopeni Negeri

19 Agustus 2026 - 17:38 WIB

MWC NU Pituruh Gelar Donor Darah Rutin, Wujud Kepedulian Sosial kepada Masyarakat

19 Agustus 2026 - 15:28 WIB

MWCNU Gebang Hadiri Maulid Nabi di Pakem Krajan, KH Duri Ashari Kupas Filosofi Gerakan Shalat

16 Agustus 2026 - 00:52 WIB

Trending di Berita