PURWOREJO – Mengurai persoalan sampah di lingkungan pondok pesantren sekaligus mendorong adaptasi teknologi digital, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Purworejo menggelar Sarasehan Pengurus Pondok Pesantren se-Kabupaten Purworejo.
Kegiatan bertajuk “Revolusi Sampah Pesantren: Dari Masalah Jadi Berkah” ini berlangsung di Gedung SMK Nurussalaf Kemiri, Purworejo, pada Ahad (17/5/2026), dan dihadiri oleh 61 perwakilan pondok pesantren NU se-Kabupaten Purworejo.

Ketua RMI PCNU Purworejo, KHR. M. Amir Kilal, S.Ag., mengungkapkan bahwa inisiatif sarasehan ini bermula dari diskusi para pengurus yang menyoroti pengelolaan limbah sebagai pekerjaan rumah (PR) besar di pesantren. “Masalah ini tentunya harus segera ditangani dan ditanggulangi. Harapan kami, melalui kegiatan ini para pengurus tidak hanya sekadar paham teori, tetapi bisa langsung mempraktikkannya di pondok masing-masing,” tegasnya.
Langkah solutif RMI ini mendapat apresiasi penuh dari Ketua PCNU Kabupaten Purworejo, KH. M. Haekal, S.Pd.I. Menurutnya, pesantren sebagai bagian dari elemen masyarakat harus mengambil peran aktif, mengingat volume sampah di Kabupaten Purworejo mencapai hampir 300 ton. “Kami harap peserta dapat mengambil ilmu dari para narasumber, sehingga ikhtiar kita bersama untuk mengelola sampah dengan baik bisa terwujud,” ujar KH. Haekal.

Seremonial Pembukaan Sarasehan
Eco-Pesantren dan Nilai Ekonomi Sampah
Acara inti diisi dengan pemaparan program Eco-Pesantren oleh Suci Indriasari dan Imam Fauzi, perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Kabupaten Purworejo. Suci menekankan bahwa kepedulian terhadap alam di lingkungan pesantren harus berlandaskan pada kesadaran penuh dan keikhlasan.
“Implementasi Eco-Pesantren sangat menonjol pada aspek pengelolaan sampah asrama. Sekitar 55 hingga 70 persen sampah organik bisa dimanfaatkan menjadi pupuk, biogas, hingga budidaya maggot. Sementara 30 hingga 45 persen sampah anorganik dapat dikelola melalui Bank Sampah Asrama (BSA) untuk meraup potensi ekonomi,” jelas Suci.
Bukti nyata pengelolaan sampah yang menghasilkan nilai ekonomi dibagikan oleh Direktur Krapyak Peduli Sampah (KPS), Andika Muhammad Nuur, S.Ak. Ia menceritakan keberhasilan Ponpes Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta dalam membangun ekosistem ekonomi sirkular lewat slogan “Pilah, Olah, Berkah”.
Melalui inovasi pemilahan ekstrem hingga 36 kategori di lahan yang hanya seluas 90 meter persegi, KPS sukses memangkas volume sampah harian pesantren dari 2 ton menjadi hanya 100 kilogram.
“Dulu sampah dianggap kotor dan bau. Sekarang sampah itu investasi,” tegas Andika. Transformasi pola pikir ini bahkan berhasil membalikkan keadaan; dari yang sebelumnya pesantren harus membayar jasa buang sampah hingga Rp30 juta per bulan, kini justru mampu meraup penghasilan tambahan hingga Rp20 juta per bulan berkat kolaborasi dengan UMKM dan warga sekitar.

Santri antusias mendengarkan paparan materi
Transformasi Identitas lewat Digdaya Pesantren
Selain membahas isu lingkungan, sarasehan ini juga menyoroti pentingnya transformasi digital di era modern. Sekretaris RMI PCNU Purworejo, Muhammad Syukri Abadi, menyosialisasikan program PBNU bertajuk Digdaya Pesantren X Portal Pesantren NU.
Syukri menyoroti keresahan warga yang kerap kebingungan mencari pesantren afiliasi NU yang valid, sekaligus keluhan pesantren yang selama ini hanya menjadi objek pendataan tanpa mendapatkan nilai tambah.
“Masalah intinya adalah pesantren sudah didata, tapi belum diberi nilai tambah. Melalui Digdaya Pesantren, pesantren tidak hanya didata, tetapi juga dipromosikan,” ungkapnya.
Sistem digital ini diibaratkan seperti platform pemesanan akomodasi online (seperti Traveloka). Profil pesantren akan ditampilkan secara profesional dan terintegrasi di portal pesantren.nu.id, lengkap dengan lokasi, keunggulan, hingga tombol pendaftaran santri baru.
“Ini bukan sekadar pendataan pesantren, tapi cara agar pesantren NU lebih terlihat, lebih terhubung, dan lebih berdaya di era digital,” pungkas Syukri.







