KUTOARJO – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kutoarjo bersama Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Purworejo menggelar Ngaji Budaya bertajuk “Wayang Santri” dalam rangka Pengajian Selapanan Ahad Kliwon MWCNU Kutoarjo dan seluruh Badan Otonom NU se-Kecamatan Kutoarjo, Ahad (3/5/2026).
Kegiatan yang dirangkai dengan pelantikan pengurus MWCNU Kutoarjo dan Muslimat NU Ranting Semawung Kembaran itu berlangsung khidmat dengan balutan nuansa seni dan budaya. Kehadiran Ketua Lesbumi PCNU Purworejo, Kyai Akhmad Khanafi, S.Pd.I., sebagai narasumber memberikan penguatan mengenai pentingnya dakwah kultural sebagai bagian dari tradisi perjuangan Nahdlatul Ulama dalam merawat Islam yang ramah, moderat, dan membumi.

Dalam penyampaiannya, Kyai Akhmad Khanafi menegaskan bahwa esensi Ngaji Budaya adalah “membudayakan ngaji” di tengah kehidupan masyarakat.
“NU sejak dahulu berdakwah melalui pendekatan budaya. Budaya dijadikan sarana agar masyarakat semakin dekat dengan nilai-nilai agama dan akhlakul karimah,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan dawuh mengenai empat kebahagiaan manusia, yakni memiliki pasangan yang saleh/salehah, anak yang berbakti, lingkungan pergaulan yang baik, serta mata pencaharian di negeri sendiri. Menurutnya, empat hal tersebut menjadi pondasi penting dalam membangun kehidupan yang tenteram dan penuh keberkahan.
Dalam kesempatan itu, Kyai Akhmad Khanafi turut mengupas makna filosofis tembang Jawa “Lir-Ilir”. Ia menjelaskan bahwa kata “ilir” dimaknai sebagai kipas. Sebuah kipas akan menghasilkan angin yang sejuk apabila gerak kanan dan kirinya berjalan seimbang. Hal tersebut, menurutnya, menjadi simbol kehidupan manusia yang harus mampu menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat.
“Jangan hanya memikirkan dunia dan materi semata. Bekerja itu penting, tetapi ibadah juga harus dijaga. Hakikat manusia diciptakan Allah SWT adalah untuk beribadah kepadaNya,” jelasnya.
Ia menambahkan, ibadah harus dijalankan sesuai tuntunan para ulama sebagai pewaris para nabi. Dalam penjelasannya mengenai penggalan tembang “Cah angon penekna blimbing kuwi”, ia menekankan pentingnya pembangunan kualitas sumber daya manusia sekaligus penguatan akhlak umat.
“Agamanya sudah bagus, lalu manusianya bagaimana? Islam itu pasti baik, tinggal manusianya yang harus terus dibangun. Kadang sifat kemanusiaan seseorang bisa stabil, bisa naik turun. Bahkan ada manusia yang perilakunya tidak mencerminkan nilai kemanusiaan karena hati dan pikirannya tidak tersambung dengan baik,” ungkapnya.
Ketika hati tidak tersambung dengan nurani dan ilmu, mata menjadi tidak mampu melihat kebenaran, sementara telinga enggan mendengarkan nasihat kebaikan sehingga manusia mudah terjerumus dalam kesesatan. Hal tersebut selaras dengan peringatan dalam Al-Qur’an tentang manusia yang memiliki hati, mata, dan telinga, namun tidak digunakan untuk memahami dan menerima kebenaran.
Ia pun bersyukur karena warga Nahdliyin melalui tradisi pengajian NU tidak hanya diajak memikirkan persoalan duniawi, tetapi juga diarahkan untuk mempersiapkan kehidupan akhirat.
“Alhamdulillah di NU, jamaah tidak hanya diajak memikirkan dunia, tetapi juga akhirat. Ada keseimbangan hidup yang terus diajarkan para ulama,” katanya.
Ngaji Budaya “Wayang Santri” tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Nahdlatul Ulama dalam merawat tradisi sekaligus menjaga warisan budaya bangsa agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Sementara itu, Pengajian Selapanan Ahad Kliwon rutin dilaksanakan sebagai wadah silaturahmi warga Nahdliyin, penguatan ukhuwah, serta sarana penguatan nilai-nilai keagamaan yang melibatkan seluruh badan otonom NU di Kecamatan Kutoarjo.
Melalui kegiatan tersebut, MWCNU Kutoarjo berharap semangat dakwah kultural semakin tumbuh di tengah masyarakat serta memperkuat peran Nahdlatul Ulama dalam menjaga tradisi, budaya, dan nilai-nilai kebangsaan. (hr)







