Menu

Mode Gelap
Mengenang Wafatnya Syaikhona KH Maimoen Zubair di Tanah Suci Jamaah Haji KBIHNU Ziarah Jannatul Ma’la Lailatul Ijtima’ MWC NU Pituruh di Dukuh Sitawon, Jamaah Tempuh Medan Ekstrem dengan Truk Berdayakan Perempuan, PAC Fatayat Purworejo Gelar Pelatihan Menjahit Bersama BLK Semangat Berbagi untuk Sesama, MWCNU Pituruh Sukses Selenggarakan Donor Darah dan Berhasil Himpun 26 Kantong Darah Sambut Muharram 1448 H, Muslimat NU Krendetan Gelar Selapanan dan Pengajian Bersama Kyai Choirul Anwar

Berita

Ngaji Budaya Wayang Santri di MWCNU Kutoarjo Kupas Filosofi Lir-Ilir

badge-check


					Ngaji Budaya Wayang Santri di MWCNU Kutoarjo Kupas Filosofi Lir-Ilir Perbesar

KUTOARJO – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kutoarjo bersama Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Purworejo menggelar Ngaji Budaya bertajuk “Wayang Santri” dalam rangka Pengajian Selapanan Ahad Kliwon MWCNU Kutoarjo dan seluruh Badan Otonom NU se-Kecamatan Kutoarjo, Ahad (3/5/2026).

Kegiatan yang dirangkai dengan pelantikan pengurus MWCNU Kutoarjo dan Muslimat NU Ranting Semawung Kembaran itu berlangsung khidmat dengan balutan nuansa seni dan budaya. Kehadiran Ketua Lesbumi PCNU Purworejo, Kyai Akhmad Khanafi, S.Pd.I., sebagai narasumber memberikan penguatan mengenai pentingnya dakwah kultural sebagai bagian dari tradisi perjuangan Nahdlatul Ulama dalam merawat Islam yang ramah, moderat, dan membumi.

Dalam penyampaiannya, Kyai Akhmad Khanafi menegaskan bahwa esensi Ngaji Budaya adalah “membudayakan ngaji” di tengah kehidupan masyarakat.

“NU sejak dahulu berdakwah melalui pendekatan budaya. Budaya dijadikan sarana agar masyarakat semakin dekat dengan nilai-nilai agama dan akhlakul karimah,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan dawuh mengenai empat kebahagiaan manusia, yakni memiliki pasangan yang saleh/salehah, anak yang berbakti, lingkungan pergaulan yang baik, serta mata pencaharian di negeri sendiri. Menurutnya, empat hal tersebut menjadi pondasi penting dalam membangun kehidupan yang tenteram dan penuh keberkahan.

Dalam kesempatan itu, Kyai Akhmad Khanafi turut mengupas makna filosofis tembang Jawa “Lir-Ilir”. Ia menjelaskan bahwa kata “ilir” dimaknai sebagai kipas. Sebuah kipas akan menghasilkan angin yang sejuk apabila gerak kanan dan kirinya berjalan seimbang. Hal tersebut, menurutnya, menjadi simbol kehidupan manusia yang harus mampu menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat.

“Jangan hanya memikirkan dunia dan materi semata. Bekerja itu penting, tetapi ibadah juga harus dijaga. Hakikat manusia diciptakan Allah SWT adalah untuk beribadah kepadaNya,” jelasnya.

Ia menambahkan, ibadah harus dijalankan sesuai tuntunan para ulama sebagai pewaris para nabi. Dalam penjelasannya mengenai penggalan tembang “Cah angon penekna blimbing kuwi”, ia menekankan pentingnya pembangunan kualitas sumber daya manusia sekaligus penguatan akhlak umat.

“Agamanya sudah bagus, lalu manusianya bagaimana? Islam itu pasti baik, tinggal manusianya yang harus terus dibangun. Kadang sifat kemanusiaan seseorang bisa stabil, bisa naik turun. Bahkan ada manusia yang perilakunya tidak mencerminkan nilai kemanusiaan karena hati dan pikirannya tidak tersambung dengan baik,” ungkapnya.

Ketika hati tidak tersambung dengan nurani dan ilmu, mata menjadi tidak mampu melihat kebenaran, sementara telinga enggan mendengarkan nasihat kebaikan sehingga manusia mudah terjerumus dalam kesesatan. Hal tersebut selaras dengan peringatan dalam Al-Qur’an tentang manusia yang memiliki hati, mata, dan telinga, namun tidak digunakan untuk memahami dan menerima kebenaran.

Ia pun bersyukur karena warga Nahdliyin melalui tradisi pengajian NU tidak hanya diajak memikirkan persoalan duniawi, tetapi juga diarahkan untuk mempersiapkan kehidupan akhirat.

“Alhamdulillah di NU, jamaah tidak hanya diajak memikirkan dunia, tetapi juga akhirat. Ada keseimbangan hidup yang terus diajarkan para ulama,” katanya.

Ngaji Budaya “Wayang Santri” tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Nahdlatul Ulama dalam merawat tradisi sekaligus menjaga warisan budaya bangsa agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.

Sementara itu, Pengajian Selapanan Ahad Kliwon rutin dilaksanakan sebagai wadah silaturahmi warga Nahdliyin, penguatan ukhuwah, serta sarana penguatan nilai-nilai keagamaan yang melibatkan seluruh badan otonom NU di Kecamatan Kutoarjo.

Melalui kegiatan tersebut, MWCNU Kutoarjo berharap semangat dakwah kultural semakin tumbuh di tengah masyarakat serta memperkuat peran Nahdlatul Ulama dalam menjaga tradisi, budaya, dan nilai-nilai kebangsaan. (hr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mengenang Wafatnya Syaikhona KH Maimoen Zubair di Tanah Suci

11 Juni 2026 - 19:07 WIB

Prosesi pemakaman Syaikhona KH. Maimoen Zubair di Jannatul Ma'la, Makkah Al-Mukarramah, Selasa (6/8/2019). KH. Muhammad Haekal, Ketua PCNU Purworejo (berpeci hitam di bawah keranda), turut mengangkat jenazah menuju makam.

Jamaah Haji KBIHNU Ziarah Jannatul Ma’la

11 Juni 2026 - 08:13 WIB

Lailatul Ijtima’ MWC NU Pituruh di Dukuh Sitawon, Jamaah Tempuh Medan Ekstrem dengan Truk

8 Juni 2026 - 13:14 WIB

Berdayakan Perempuan, PAC Fatayat Purworejo Gelar Pelatihan Menjahit Bersama BLK

8 Juni 2026 - 13:10 WIB

Semangat Berbagi untuk Sesama, MWCNU Pituruh Sukses Selenggarakan Donor Darah dan Berhasil Himpun 26 Kantong Darah

8 Juni 2026 - 13:08 WIB

Sambut Muharram 1448 H, Muslimat NU Krendetan Gelar Selapanan dan Pengajian Bersama Kyai Choirul Anwar

8 Juni 2026 - 10:46 WIB

Trending di Berita