Menu ✖

Mode Gelap
Dari Resolusi Jihad ke Revolusi Digital, Apel Hari Santri 2026 PCNU Purworejo Tegaskan Tantangan Santri Rajut Sinergi Lintas Sektoral, MWC NU Butuh Sukses Gelar Apel Hari Santri 2026 dan Majelis Shalawat 2.000 Warga Nahdliyin Meriahkan Jalan Sehat HSN 2026 MWCNU Loano, Sepeda Listrik Jadi Hadiah Utama MWCNU Gebang Matangkan Program Strategis, dari Kemandirian Ekonomi hingga Pendidikan PCNU Purworejo Salurkan Bantuan Khitan Gratis untuk Tiga Santri TPQ Lugosobo Ny. Fauziyah Laili Wasul Pimpin Muslimat NU Purworejo 2026-2031, Bidik Penguatan Kader dan Ranting

Berita

Dari Resolusi Jihad ke Revolusi Digital, Apel Hari Santri 2026 PCNU Purworejo Tegaskan Tantangan Santri

badge-check


					Dari Resolusi Jihad ke Revolusi Digital, Apel Hari Santri 2026 PCNU Purworejo Tegaskan Tantangan Santri Perbesar

PURWOREJO – Santri tidak cukup hanya menguasai ilmu agama. Di tengah perkembangan zaman, santri juga dituntut menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi agar mampu berkontribusi dalam pembangunan bangsa tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai pesantren.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Purworejo, KH. Muhammad Haekal, S.Pd.I., saat menjadi pembina apel peringatan Hari Santri Nasional 2026 di halaman Gedung PCNU Purworejo, Kamis (22/10/2026).

Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, apel tersebut menjadi momentum untuk meneguhkan kembali peran santri dalam menjaga warisan perjuangan ulama sekaligus mempersiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan masa depan.

Dalam amanatnya, KH. Haekal menekankan bahwa tantangan perjuangan santri saat ini berbeda dengan masa para pendahulu. Jika dahulu ulama dan santri berjuang mempertahankan kemerdekaan, kini semangat perjuangan itu harus diteruskan melalui penguasaan ilmu pengetahuan, pengembangan teknologi, inovasi, dan penguatan akhlak.

Santri didorong untuk mengembangkan potensi di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, sains, teknologi, kewirausahaan, hingga kepemimpinan. Bekal keagamaan yang kuat perlu berjalan beriringan dengan keterampilan dan kemampuan menjawab persoalan masyarakat.

Dengan demikian, santri tidak hanya berperan sebagai penjaga tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan kemanusiaan.

Dari Resolusi Jihad Menuju Perjuangan Masa Kini

Peringatan Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober memiliki akar sejarah yang kuat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada 22 Oktober 1945, Hadhratussyekh KH. Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad yang menjadi salah satu tonggak penting dalam menggerakkan semangat perjuangan umat Islam menghadapi ancaman terhadap kemerdekaan.

Semangat tersebut turut mendorong perlawanan rakyat Indonesia, termasuk perjuangan yang mencapai puncaknya dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Sejarah itu menegaskan bahwa pesantren tidak pernah terpisah dari perjalanan bangsa. Ulama dan santri bukan hanya berperan dalam menjaga kehidupan keagamaan, melainkan juga turut mengambil bagian dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan Indonesia.

Warisan perjuangan tersebut menghadirkan tanggung jawab bagi generasi santri masa kini. Menghormati jasa para pendahulu tidak cukup hanya dengan mengenang sejarah atau mengikuti upacara peringatan. Semangat pengorbanan mereka harus diteruskan melalui peningkatan kualitas diri, pengabdian kepada masyarakat, dan karya yang memberikan manfaat bagi bangsa.

Jika dahulu perjuangan diwujudkan melalui perlawanan terhadap penjajah, kini perjuangan santri juga harus hadir dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas akses pengetahuan, serta menghadirkan inovasi bagi kehidupan masyarakat.

Pesantren dan Tantangan Indonesia Emas 2045

Menuju Indonesia Emas 2045, pesantren memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan mampu menghadapi perubahan zaman.

Peran tersebut dijalankan melalui pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Dalam bidang pendidikan, pesantren membentuk generasi yang memiliki kedalaman ilmu dan karakter yang kuat. Melalui dakwah, pesantren menyebarkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin serta memperkuat kerukunan dan persatuan. Sementara melalui pemberdayaan masyarakat, pesantren dapat mendorong kemandirian ekonomi dan berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan sosial.

Tantangan berikutnya adalah memastikan para santri memiliki kecakapan yang relevan dengan perkembangan zaman. Penguasaan teknologi digital, kemampuan berpikir kritis, keterampilan berkomunikasi, dan jiwa kewirausahaan menjadi bekal penting untuk memperluas peran santri di berbagai sektor kehidupan.

Namun, kemajuan tersebut tidak boleh membuat santri tercerabut dari akar tradisinya. Tradisi keilmuan pesantren, penghormatan kepada ulama, kedalaman spiritual, dan kemuliaan akhlak tetap menjadi fondasi dalam mengembangkan kemampuan modern.

Perpaduan antara kekuatan tradisi dan keterbukaan terhadap inovasi inilah yang diharapkan melahirkan generasi santri yang tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga berkontribusi dalam menentukan arah kemajuan bangsa.

Apel Libatkan Berbagai Unsur Keluarga Besar NU

Apel peringatan Hari Santri Nasional 2026 di halaman Gedung PCNU Purworejo diikuti berbagai unsur organisasi Nahdlatul Ulama. Peserta terdiri atas jajaran Syuriyah Harian dan A’wan PCNU, jajaran Tanfidziyah Harian, perwakilan lembaga dan badan khusus PCNU, badan otonom NU, lima Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), serta paduan suara Fatayat NU.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut mencerminkan partisipasi keluarga besar NU dalam memperingati Hari Santri sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dan pengabdian kepada agama, masyarakat, bangsa, dan negara.

Menutup amanatnya, KH. Haekal mengajak para santri untuk menjadi pelopor persatuan, penjaga kerukunan, penggerak kemandirian ekonomi, serta sahabat bagi lingkungan.

Pesan tersebut menegaskan bahwa Hari Santri bukan semata-mata peringatan bagi kalangan pesantren, melainkan juga pengingat bagi seluruh elemen bangsa tentang pentingnya menjaga persatuan dan meneruskan perjuangan melalui pengabdian.

Perjuangan santri hari ini tidak lagi diukur semata-mata dari kemampuan menjaga warisan sejarah, tetapi juga dari keberanian mengembangkan ilmu, menghadirkan inovasi, menjaga akhlak, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Berpijak pada tradisi pesantren dan terbuka terhadap kemajuan zaman, santri diharapkan terus mengambil peran dalam menguatkan negeri menuju Indonesia Emas 2045.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rajut Sinergi Lintas Sektoral, MWC NU Butuh Sukses Gelar Apel Hari Santri 2026 dan Majelis Shalawat

22 Oktober 2026 - 19:02 WIB

2.000 Warga Nahdliyin Meriahkan Jalan Sehat HSN 2026 MWCNU Loano, Sepeda Listrik Jadi Hadiah Utama

18 Oktober 2026 - 19:26 WIB

MWCNU Gebang Matangkan Program Strategis, dari Kemandirian Ekonomi hingga Pendidikan

11 Oktober 2026 - 20:29 WIB

PCNU Purworejo Salurkan Bantuan Khitan Gratis untuk Tiga Santri TPQ Lugosobo

11 Oktober 2026 - 09:24 WIB

Ny. Fauziyah Laili Wasul Pimpin Muslimat NU Purworejo 2026-2031, Bidik Penguatan Kader dan Ranting

21 September 2026 - 17:33 WIB

“Ora Ono Muslimat NU, NU Ora Ono” PW Muslimat Jateng Tegaskan Peran Strategis Perempuan dalam Keberlanjutan NU

21 September 2026 - 11:15 WIB

Trending di Berita