Menu ✖

Mode Gelap
PMII An-Nawawi Rekrut 18 Kader Baru, Perkuat Regenerasi Organisasi Rawat Tradisi Terbang Jawa, MWCNU Gebang Hidupkan Syiar Selawat dalam Rangkaian HSN 2026 Enam Prestasi Mahasiswa STAINU Purworejo di MTQ Pelajar XXXIX dan Mahasiswa 2026 Jadi Bukti Kaderisasi Qur’ani Dari Resolusi Jihad ke Revolusi Digital, Apel Hari Santri 2026 PCNU Purworejo Tegaskan Tantangan Santri Rajut Sinergi Lintas Sektoral, MWC NU Butuh Sukses Gelar Apel Hari Santri 2026 dan Majelis Shalawat 2.000 Warga Nahdliyin Meriahkan Jalan Sehat HSN 2026 MWCNU Loano, Sepeda Listrik Jadi Hadiah Utama

Berita

Rawat Tradisi Terbang Jawa, MWCNU Gebang Hidupkan Syiar Selawat dalam Rangkaian HSN 2026

badge-check


					Oplus_16908288 Perbesar

Oplus_16908288

PURWOREJO – Tradisi kungkrus dan lantunan selawat menjadi bagian dari cara masyarakat merawat warisan keagamaan sekaligus mempererat kebersamaan. Semangat itulah yang mewarnai kegiatan Kungkrusan Terbang Jawa yang diselenggarakan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gebang, Kabupaten Purworejo, Rabu malam (21/10/2026), dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026.

Bertempat di lantai dua Gedung MWCNU Gebang, kegiatan tersebut diikuti sembilan kelompok terbang dari sembilan desa di Kecamatan Gebang. Mereka berasal dari Desa Winong Kidul, Winong Lor, Mlaran, Ngemplak, Pakem, Gintungan, Kroyo, Kragilan, dan Mbulus.

Bagi masyarakat Purworejo dan sekitarnya, kungkrusan bukan sekadar latihan memainkan alat musik rebana atau kencrengan yang dikenal sebagai terbang. Tradisi ini juga menjadi ruang pertemuan antarkelompok untuk berlatih bersama, melantunkan selawat, serta menjaga keberlangsungan seni musik keagamaan yang tumbuh di tengah masyarakat.

Kehadiran sembilan kelompok dalam satu kegiatan memperlihatkan bagaimana tradisi lokal dapat menjadi sarana memperkuat silaturahmi sekaligus menghidupkan syiar Islam di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Acara yang dipandu Surono tersebut diawali dengan sambutan Rais Syuriyah MWCNU Gebang, Kiai Misbahuzain. Dalam sambutannya, ia mengingatkan kembali sejarah perjuangan santri yang menjadi dasar penetapan Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober.

Ia menyinggung Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 sebagai tonggak penting yang menggerakkan perjuangan umat Islam dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat perjuangan tersebut, menurutnya, perlu terus dikenang dan diwujudkan melalui pengabdian kepada agama, bangsa, dan masyarakat.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil yang dipimpin Kiai Imron, disusul doa bersama oleh Kiai Ahmad Muhaini, S.H., M.Si. Selanjutnya, kelompok terbang dari Desa Winong Kidul yang dipimpin Kiai Nursalim membawakan pembacaan Kitab Barzanji.

Suasana kebersamaan semakin terasa saat memasuki mahalul qiyam. Sembilan kelompok terbang yang hadir menabuh kencreng dan bedug secara serempak, mengiringi lantunan selawat dalam suasana khidmat. Penampilan bersama tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan yang mempertemukan kelompok-kelompok terbang dari berbagai desa di Kecamatan Gebang.

Ketua Tanfidziyah MWCNU Gebang, Supriyanto, S.Sos., menjelaskan bahwa kegiatan kungkrusan merupakan bagian dari rangkaian peringatan HSN yang telah direncanakan melalui Rapat Koordinasi MWCNU Gebang di Lugosobo pada 11 Oktober 2026.

Sebelum kegiatan tersebut digelar, MWCNU Gebang telah mengawali rangkaian peringatan dengan ziarah ke makam para tokoh dan pengurus NU terdahulu yang dipimpin oleh Rais Syuriyah. Ziarah itu menjadi bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah berkhidmah bagi Nahdlatul Ulama.

Setelah rangkaian utama selesai, kegiatan dilanjutkan dengan kungkrusan dalam suasana ramah tamah dan diskusi bersama. Acara berlangsung hingga pukul 23.00 WIB.

Melalui kegiatan ini, MWCNU Gebang tidak hanya memperingati Hari Santri Nasional, tetapi juga memberikan ruang bagi tradisi lokal untuk terus berkembang dalam kehidupan masyarakat. Kungkrusan Terbang Jawa menjadi salah satu bentuk perjumpaan antara seni, selawat, dan kebersamaan yang memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan keagamaan masyarakat Purworejo.

Di tengah perubahan zaman, pelestarian tradisi semacam ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga warisan budaya keagamaan agar tetap dikenal dan diteruskan oleh generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PMII An-Nawawi Rekrut 18 Kader Baru, Perkuat Regenerasi Organisasi

25 Oktober 2026 - 19:06 WIB

Enam Prestasi Mahasiswa STAINU Purworejo di MTQ Pelajar XXXIX dan Mahasiswa 2026 Jadi Bukti Kaderisasi Qur’ani

25 Oktober 2026 - 15:11 WIB

Dari Resolusi Jihad ke Revolusi Digital, Apel Hari Santri 2026 PCNU Purworejo Tegaskan Tantangan Santri

23 Oktober 2026 - 14:26 WIB

Rajut Sinergi Lintas Sektoral, MWC NU Butuh Sukses Gelar Apel Hari Santri 2026 dan Majelis Shalawat

22 Oktober 2026 - 19:02 WIB

2.000 Warga Nahdliyin Meriahkan Jalan Sehat HSN 2026 MWCNU Loano, Sepeda Listrik Jadi Hadiah Utama

18 Oktober 2026 - 19:26 WIB

MWCNU Gebang Matangkan Program Strategis, dari Kemandirian Ekonomi hingga Pendidikan

11 Oktober 2026 - 20:29 WIB

Trending di Berita