PURWOREJO – Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Tengah, Ahmad Farichin, menyoroti pentingnya merawat dan memperkuat simpul historis jalinan kaderisasi bagi cabang-cabang yang berada di wilayah geografis lereng Gunung Sumbing, atau yang akrab disebut sebagai zona Danyang Sumbing. Hal tersebut ia sampaikan saat menutup Konferensi Cabang (Konfercab) XVIII PMII Purworejo pada Rabu (03/06/2026) di Auditorium Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAI NU) Purworejo.
Dalam sambutannya, Sahabat Farichin, demikian ia akrab disapa, membuka kembali memori masa lalunya saat masih menjabat sebagai ketua komisariat yang sering berkunjung ke Sekretariat Komisariat Ahmad Dahlan Purworejo. Kala itu, ia mengaku sempat merasa sungkan dan segan untuk berkunjung ke kantor pengurus cabang karena khawatir mendapat candaan dari para senior.

“Saya mengenal PC PMII Purworejo ini sejak saya menjadi ketua komisariat dulu. Saya dulu sering mampir di Sekretariat Komisariat Ahmad Dahlan. Waktu itu saya belum kenal pengurus cabang karena masih menjadi pengurus komisariat, jadi agak sungkan dan takut di-roasting senior kalau main ke cabang,” ungkapnya mengundang tawa ringan hadirin.
Lebih lanjut, Farichin menjelaskan adanya ikatan geografis dan historis yang kuat antar-cabang, meliputi Purworejo, Temanggung, Magelang dan Wonosobo yang terhimpun dalam satu simpul bernama Zona Danyang Sumbing. Wilayah ini dinilai sangat aktif dalam melakukan kolaborasi dan pertukaran kader pada berbagai forum kaderisasi.
“Ternyata setelah saling bercerita, di antara cabang-cabang kita seperti Temanggung dan Purworejo, kita memiliki satu simpul zona wilayah yang dinamakan Zona Dayang Sumbing, meliputi Purworejo, Temanggung, Magelang dan Wonosobo. Di Zona Dayang Sumbing ini, sering kali terjadi pertukaran kader dalam ruang-ruang kaderisasi,” lanjutnya.
Farichin menambahkan, kultur saling mengirim kader lintas cabang ini sebenarnya sudah mengakar kuat sejak lama, bahkan dari jenjang kaderisasi formal paling dasar, yakni Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba). Fleksibilitas kaderisasi ini terus berlanjut hingga ke jenjang Pelatihan Kader Dasar (PKD) dan Pelatihan Kader Lanjut (PKL).
“Kalau sekarang mungkin hal itu lumrah kita temui di PKD atau PKL. Namun dulu, bahkan di tingkat Mapaba pun sudah ada pertukaran tersebut. Misalnya, ada kader Temanggung yang ingin ikut Mapaba, karena di Temanggung belum ada jadwal, mereka ikut Mapaba di Wonosobo atau di Purworejo. Begitu pun sebaliknya. Di tingkat PKD dan PKL juga demikian, Purworejo mengirim kader ke Temanggung, dan Temanggung mengirim ke Purworejo,” jelas Farichin.
Menurutnya, jalinan silaturahmi tersebut sangat krusial untuk dirawat bersama mengingat mayoritas cabang di zona Danyang Sumbing berada di wilayah pegunungan. Keunikan Purworejo yang memiliki wilayah laut sering kali dipilih menjadi lokasi strategis dan memiliki daya tarik tersendiri saat menggelar agenda Danyang Sumbing.
“Artinya, ada sambungan silaturahmi yang harus selalu kita jaga bersama. Kenapa hal ini penting menurut saya? Karena wilayah kita ini adalah wilayah yang sifatnya pegunungan. Kalau Purworejo, beruntung karena memiliki wilayah laut dan pantai. Temanggung, Wonosobo, dan Magelang tidak punya pantai. Hanya Purworejo yang punya. Maka kalau agenda Dayang Sumbing dua kali dilakukan di Purworejo, pasti dicarikan tempat di pantai, karena anak-anak Temanggung tidak punya pantai,” ungkapnya.
Mengingat basis kader di zona ini mayoritas tumbuh dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS), Farichin mengajak seluruh fungsionaris dari tingkat cabang, komisariat, hingga rayon untuk lebih masif melakukan kunjungan dan mempererat tali silaturahmi antar-wilayah.
“Mayoritas kampus di wilayah kita berasal dari kampus PTKIS, walau ada juga beberapa PTKIN. Satu hal yang harus kita jaga bersama adalah nuansa silaturahmi kita di masing-masing wilayah zona ini. Maka dari itu, bagi sahabat ketua cabang, ketua komisariat, hingga ketua rayon, kalau ada waktu dan kesempatan, silakan main dan saling bersilaturahmi satu sama lain” pungkasnya.
Kontributor: Muhammad Fadhil











