Menu

Mode Gelap
PMII Imam Puro Gelar Sekolah Aswaja 2026, Cetak Trainer Ideologi di Era Digital Ngaji Budaya Wayang Santri di MWCNU Kutoarjo Kupas Filosofi Lir-Ilir Pelantikan MWCNU Kutoarjo dan Muslimat NU Semawung Kembaran Teguhkan Komitmen Khidmah dan Kemanfaatan bagi Masyarakat Ansor Goes to Japan! Program Baru PC Ansor Purworejo Bidik Peluang Kerja Internasional Atap Rumah Sahabat Ansor Runtuh, Tim Media NU Purworejo Ajak Masyarakat Ulurkan Tangan Dari Desa untuk Kemandirian: Ikhtiar LAZISNU Purworejo Menumbuhkan Harapan Warga Kedungloteng

Berita

PCNU Purworejo Hadiri Seminar Nasional Jejak Kepahlawanan NU, Meneladani Perjuangan Syaikh Mahfudz Somalangu dalam Meneguhkan Kemerdekaan

badge-check


					PCNU Purworejo Hadiri Seminar Nasional Jejak Kepahlawanan NU, Meneladani Perjuangan Syaikh Mahfudz Somalangu dalam Meneguhkan Kemerdekaan Perbesar

Kebumen, Warta Nahdliyyin — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Purworejo menghadiri Seminar Nasional Jejak Kepahlawanan NU: Perjuangan Syaikh Mahfudz Somalangu dalam Meneguhkan Kemerdekaan Indonesia yang diselenggarakan Universitas Ma’arif NU (UMNU) Kebumen pada Ahad, 23 November 2025, bertempat di Aula Aswaja Center UMNU Kebumen.

PCNU Purworejo hadir melalui perwakilan dari dua lembaga, yaitu Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTNNU) Purworejo (Hardi Riyanto, Lutfiana Fahrurozi) dan Lembaga Pendidikan Tinggi NU (LPTNU) Purworejo (Aniqoh, Lc., Th.I, Siti Anisatun Nafi’ah, S.Hum., M.Pd)

Kehadiran PCNU Purworejo dalam forum akademik dan keulamaan ini menjadi komitmen nyata organisasi dalam memperkokoh pemahaman sejarah perjuangan ulama serta memperluas jejaring intelektual antarwilayah di Jawa Tengah.

Kegiatan yang digelar dalam rangka peringatan Hari Pahlawan tersebut bertujuan menggali kontribusi historis ulama Nusantara, khususnya Syaikh Mahfudz Somalangu, dalam perjuangan bangsa serta peneguhan nilai-nilai kebangsaan.

Seminar dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Kebumen, Zaeni Miftah. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya menghidupkan kembali keteladanan ulama sebagai pedoman moral dan intelektual bagi generasi bangsa.

“NU memiliki kontribusi besar dalam sejarah Indonesia. Sosok Syaikh Mahfudz merupakan teladan mengenai keberanian, kebijaksanaan, dan kepemimpinan yang patut diwarisi oleh generasi muda,” ujarnya.

Acara turut dihadiri perwakilan PWNU Jawa Tengah, yaitu KH. Kholison Syafii, S.H., yang memberikan apresiasi atas terselenggaranya forum ilmiah tersebut sebagai upaya pemerkaya khazanah perjuangan ulama.

Seminar menyajikan pembahasan komprehensif mengenai peran Syaikh Mahfudz melalui para narasumber, yakni: KH Afifudin Al Hasani (Pengasuh PP Al Kahfi Somalangu / Rais Syuriah PCNU Kebumen), Dr. H. Abdul Kholik, S.H., M.Si. (Ketua PPUU DPD RI), Prof. Dr. Arif Ahyat, MA. (Sejarawan UGM), Dr. H. Imam Satibi, M.Pd.I. (Rektor UMNU Kebumen), dan Dr. Hj. Siti Maryam, M.Ag. (Sejarawan UIN Sunan Kalijaga)

KH Afifudin Al Hasani memaparkan karakter keilmuan Syaikh Mahfudz yang dikenal beretika tinggi, tekun belajar, dan menghasilkan karya-karya bernilai dalam bidang nahwu dan sharaf. Beliau juga mengintegrasikan budaya lokal dalam pembelajarannya dengan memanfaatkan tembang Jawa seperti dandanggula dan pangkur.

Sementara itu, Prof. Dr. Arif Ahyat menjelaskan bahwa Syaikh Mahfudz tidak hanya berjuang dalam aspek fisik, tetapi juga melalui pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat. Pada masa inflasi tinggi dan krisis pangan, beliau berhasil menggalang hingga 500 ribu ton beras untuk membantu masyarakat. Kapasitasnya dalam membangun jejaring lintas kelompok menjadikannya tokoh yang sangat berpengaruh pada masanya.

Dr. Siti Maryam menambahkan bahwa Kebumen memiliki peran strategis sebagai jalur transit selatan Jawa, sehingga menjadi ruang penting bagi aktivitas ulama dan masyarakat. Ia juga mengungkapkan bahwa Syaikh Mahfudz memiliki kemampuan berbahasa Jepang yang dimanfaatkan dalam bernegosiasi dengan pemerintahan pendudukan.

“Sebagai tokoh Tarekat Syadziliyah, beliau menggerakkan jaringan pesantren dan masyarakat untuk memperkuat spirit kemerdekaan,” terangnya.

Seminar ini tidak hanya menghadirkan pemaparan materi sejarah, tetapi juga membuka sesi diskusi terbuka yang berlangsung dinamis. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi, terlihat dari banyaknya pertanyaan, tanggapan, serta dorongan agar kajian sejarah kepahlawanan Syaikh Mahfudz semakin diperdalam. Dalam sesi diskusi tersebut, muncul beberapa pembahasan penting dan strategis, diantaranya:

Pelurusan Sejarah AOI (Angkatan Oemat Islam). Para pemateri menekankan bahwa AOI, sebagai organisasi perjuangan yang turut digerakkan oleh Syaikh Mahfudz Somalangu, perlu mendapatkan perhatian lebih dalam penulisan sejarah Indonesia. Banyak narasi lama yang belum menggambarkan peran AOI secara proporsional, sehingga diperlukan kajian ulang yang berdasarkan sumber-sumber valid agar tidak terjadi salah persepsi.

AOI Bukan Pemberontak, tapi Pahlawan. Usai Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia berada dalam situasi rawan karena rendahnya kesadaran masyarakat dan upaya Belanda melalui NICA untuk kembali berkuasa. Dalam kondisi itu, Syekh Mahfudz Somalangu menghimpun santri dan petani melalui Angkatan Oemat Islam (AOI) untuk mempertahankan kemerdekaan sekaligus membangun kesadaran nasional. AOI berperan di sejumlah pertempuran penting, antara lain Perang Surabaya, Pertempuran Lima Hari di Semarang, Ambarawa, serta Perang Sabil Gombong. Mereka juga membantu Batalyon Sudarmo merebut kembali Kebumen.

Syekh Mahfudz turut berperan dalam lahirnya Resolusi Jihad NU pada 22 Oktober 1945 dan mendukung PPKI dalam penguatan rumusan UUD 1945. Pada 1946, ia mempelopori pengiriman bantuan 500.000 ton padi untuk rakyat India yang mengalami kelaparan. Meski sempat terjadi kesalahpahaman dengan APRIS terkait RERA, Syekh Mahfudz menegaskan bahwa AOI bukan pemberontak dan tetap setia pada Pancasila. Kepemimpinannya yang strategis dan inspiratif terekam dalam semboyannya yang terkenal: “Dari pada mati sangit lebih baik mati syahid.”

Penulisan Ulang Sejarah yang Akurat. Diskusi menggarisbawahi urgensi penulisan ulang sejarah agar generasi mendatang menerima informasi yang benar, lengkap, dan tidak bias. Beberapa akademisi menyampaikan bahwa penulisan sejarah para ulama kerap terpinggirkan, padahal kontribusi mereka sangat signifikan dalam perjuangan bangsa.

Rencana Pengajuan Gelar Pahlawan Nasional. Salah satu topik yang mendapat perhatian adalah rencana pengusulan gelar Pahlawan Nasional untuk Syaikh Mahfudz bin Abdurrahman Somalangu. Para peserta seminar menyatakan dukungan penuh terhadap upaya tersebut. Pengusulan ini dinilai layak mengingat jejak perjuangan beliau yang kuat, konsisten, serta berdampak besar dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Melalui seminar nasional ini, UMNU Kebumen dan Nahdlatul Ulama menegaskan kembali peran strategis ulama, khususnya Syaikh Mahfudz Somalangu, dalam perjuangan kemerdekaan, pembentukan karakter bangsa, serta penguatan ketahanan sosial masyarakat.

PCNU Purworejo menilai kegiatan ini penting sebagai upaya meneguhkan literasi sejarah ulama, memperluas wawasan kader, sekaligus membangun kolaborasi antar-PTNU dan lembaga-lembaga NU dalam agenda keilmuan dan peradaban.

Tim LTNNU Purworejo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PMII Imam Puro Gelar Sekolah Aswaja 2026, Cetak Trainer Ideologi di Era Digital

16 Mei 2026 - 19:40 WIB

Ngaji Budaya Wayang Santri di MWCNU Kutoarjo Kupas Filosofi Lir-Ilir

3 Mei 2026 - 23:57 WIB

Pelantikan MWCNU Kutoarjo dan Muslimat NU Semawung Kembaran Teguhkan Komitmen Khidmah dan Kemanfaatan bagi Masyarakat

3 Mei 2026 - 22:24 WIB

Ansor Goes to Japan! Program Baru PC Ansor Purworejo Bidik Peluang Kerja Internasional

3 Mei 2026 - 19:12 WIB

Atap Rumah Sahabat Ansor Runtuh, Tim Media NU Purworejo Ajak Masyarakat Ulurkan Tangan

1 Mei 2026 - 14:12 WIB

Dari Desa untuk Kemandirian: Ikhtiar LAZISNU Purworejo Menumbuhkan Harapan Warga Kedungloteng

29 April 2026 - 11:05 WIB

Trending di Berita