Menu ✖

Mode Gelap
PMII An-Nawawi Rekrut 18 Kader Baru, Perkuat Regenerasi Organisasi Rawat Tradisi Terbang Jawa, MWCNU Gebang Hidupkan Syiar Selawat dalam Rangkaian HSN 2026 Enam Prestasi Mahasiswa STAINU Purworejo di MTQ Pelajar XXXIX dan Mahasiswa 2026 Jadi Bukti Kaderisasi Qur’ani Dari Resolusi Jihad ke Revolusi Digital, Apel Hari Santri 2026 PCNU Purworejo Tegaskan Tantangan Santri Rajut Sinergi Lintas Sektoral, MWC NU Butuh Sukses Gelar Apel Hari Santri 2026 dan Majelis Shalawat 2.000 Warga Nahdliyin Meriahkan Jalan Sehat HSN 2026 MWCNU Loano, Sepeda Listrik Jadi Hadiah Utama

Berita

Menolak Usulan Sekolah 5 Hari Kerja: Demi Keutuhan Nilai Agama dan Budaya Lokal

badge-check


					Menolak Usulan Sekolah 5 Hari Kerja: Demi Keutuhan Nilai Agama dan Budaya Lokal Perbesar

Purworejo – Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Purworejo secara tegas menyatakan penolakan terhadap usulan pemberlakuan sekolah dengan sistem lima hari kerja atau full day school. Usulan tersebut dinilai tidak berpihak kepada kepentingan pelajar di akar rumput, terutama dalam konteks kehidupan sosial-keagamaan dan budaya lokal yang selama ini telah mengakar kuat di masyarakat Kabupaten Purworejo, Selasa (22/07/2025)

An’im Falahudin Ketua PC IPNU Purworejo, dalam keterangannya menyatakan,
“Kami khawatir kebijakan lima hari sekolah akan berdampak buruk terhadap keberlangsungan aktivitas keagamaan dan pendidikan nonformal, seperti madrasah diniyah, TPQ, hingga kegiatan keagamaan di mushola dan masjid desa. Selama ini, sore hari adalah waktu krusial bagi generasi muda kami untuk belajar agama dan menumbuhkan karakter spiritual yang kuat.”

Hal senada disampaikan Debi Saktiyani Ketua PC IPPNU Purworejo:
“Kebijakan ini berpotensi memutus tradisi pendidikan agama yang telah berjalan turun-temurun. Pelajar perempuan di pedesaan memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai lokal dan adab keislaman melalui jalur pendidikan sore. Jika sore hari tersita oleh kelelahan akibat sekolah lima hari penuh, maka ruang pembinaan akhlak akan hilang.”

IPNU-IPPNU menilai, sistem sekolah lima hari hanya memindahkan beban tanpa solusi. Kualitas pendidikan tidak serta-merta meningkat hanya karena waktu belajar lebih padat. Justru yang dibutuhkan adalah sinergi antara pendidikan formal dan nonformal yang saling menguatkan.

Selain aspek keagamaan, penolakan ini juga mempertimbangkan dimensi sosial-budaya. Banyak kegiatan tradisional dan lokal seperti pengajian remaja, latihan hadrah, karawitan pelajar, hingga pembelajaran budaya lokal yang terselenggara di luar jam sekolah pada hari Sabtu atau sore hari. Dengan sistem lima hari kerja, ruang aktualisasi budaya dan ekspresi kearifan lokal akan semakin sempit.

PC IPNU IPPNU Kabupaten Purworejo mendorong agar pemerintah tidak gegabah dalam mengambil kebijakan yang bersifat nasional namun abai terhadap konteks lokal. Kami menyerukan agar pendekatan kebijakan pendidikan berbasis kultural dan spiritual terus dikedepankan. Indonesia bukan hanya Jakarta. Dan pendidikan bukan hanya soal angka dan jam belajar, melainkan juga karakter, akhlak, dan keberlanjutan warisan nilai-nilai luhur bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PMII An-Nawawi Rekrut 18 Kader Baru, Perkuat Regenerasi Organisasi

25 Oktober 2026 - 19:06 WIB

Rawat Tradisi Terbang Jawa, MWCNU Gebang Hidupkan Syiar Selawat dalam Rangkaian HSN 2026

25 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Enam Prestasi Mahasiswa STAINU Purworejo di MTQ Pelajar XXXIX dan Mahasiswa 2026 Jadi Bukti Kaderisasi Qur’ani

25 Oktober 2026 - 15:11 WIB

Dari Resolusi Jihad ke Revolusi Digital, Apel Hari Santri 2026 PCNU Purworejo Tegaskan Tantangan Santri

23 Oktober 2026 - 14:26 WIB

Rajut Sinergi Lintas Sektoral, MWC NU Butuh Sukses Gelar Apel Hari Santri 2026 dan Majelis Shalawat

22 Oktober 2026 - 19:02 WIB

2.000 Warga Nahdliyin Meriahkan Jalan Sehat HSN 2026 MWCNU Loano, Sepeda Listrik Jadi Hadiah Utama

18 Oktober 2026 - 19:26 WIB

Trending di Berita