Kepala Bapeltan Provinsi Jawa Tengah, Opik Mahendra, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk kolaborasi nyata antara pemerintah dan LPPNU dalam membangun kekuatan baru petani Nahdliyin melalui lembaga pesantren.
“Semangatnya adalah ‘ya santri, ya petani’. Kami ingin pesantren menjadi pusat pengembangan sektor pertanian. Ini selaras dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subiyanto tentang ketahanan pangan,” jelasnya.

Opik juga menyoroti potensi pasar pertanian di Purworejo, terutama dengan keberadaan Bandara YIA dan rencana pembangunan Embarkasi Haji. Ia mendorong santri dan petani memanfaatkan peluang tersebut melalui budidaya modern yang efisien dan terhubung dengan rantai pasar yang luas.
Selain itu, ia memaparkan tantangan pertanian modern seperti perubahan sosial, akses lahan, regenerasi petani, dan rendahnya persepsi terhadap profesi petani. Petani didorong untuk memanfaatkan media sosial dan teknologi pertanian guna meningkatkan pemasaran dan kapasitas produksi.
Bapeltan Jateng menegaskan bahwa tahun 2025 merupakan momentum besar menuju Swasembada Pangan, sejalan dengan target Gubernur Jawa Tengah menjadikan provinsi ini sebagai lumbung pangan nasional. Data Bapeltan menunjukkan produksi padi Januari–Oktober 2025 masih surplus meski tren menurun.






