Menu

Mode Gelap
STAINU Purworejo Jalin Kerja Sama Akademik dengan Hartford International University AS Upgrading Pengurus MWCNU Kutoarjo, Ketua PCNU Purworejo Tegaskan 3 Kewajiban Pengurus NU: Amanat, Keutuhan, dan Pertanggungjawaban Meneladani Akhlak Nabi, Warga Ketaon Semarakkan Maulid di Masjid Miftahul Ishlah Maulid Nabi di Winonglor, Sirah Nabawiyah Disampaikan Lewat Suluk Dalang Santri Dari Kemadulor, MWCNU Kutoarjo Serukan Warga NU Ikut Ngopeni Negeri MWC NU Pituruh Gelar Donor Darah Rutin, Wujud Kepedulian Sosial kepada Masyarakat

Berita

Kiai Haekal: Jaga 3 Pilar Pesantren Demi Masa Depan NU di Era Digital

badge-check


					Kiai Haekal: Jaga 3 Pilar Pesantren Demi Masa Depan NU di Era Digital Perbesar

Purworejo – Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Purworejo, KH Muhammad Haekal, S.Pd.I., mengingatkan kembali khitah besar pesantren sebagai pilar utama peradaban jam’iyah. Hal tersebut ia tegaskan di hadapan para kiai, bunyai, dan pengasuh pesantren dalam acara “Sambang Pesantren” di Pondok Pesantren Al Istiqomah, Kutoarjo, Sabtu (11/7/2026). Acara ini digelar oleh RMI PWNU Jawa Tengah bersama RMI PCNU Purworejo.

Di tengah dinamika zaman yang kian kompleks, Kiai Haekal menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi bagi para pengasuh dan pengurus asrama (musyrif/musyrifah). Menurutnya, gerakan “Pesantrenku Aman” yang diinisiasi oleh RMI merupakan langkah nyata untuk menjaga marwah luhur lembaga pendidikan warisan para wali tersebut.

“Di pesantren, sedikitnya ada tiga hal krusial yang harus kita jaga bersama. Pertama, pesantren sebagai lembaga ilmu pengetahuan dan pendidikan. Kedua, sebagai benteng moral masyarakat, dan ketiga, sebagai pusat perjuangan,” ujar Kiai Haekal tegas.

Tokoh muda pemersatu warga Nahdliyin Purworejo ini menjabarkan bahwa ketiga fungsi tersebut harus berjalan seimbang. Saat menghadapi tantangan siber dan isu ruang ramah anak seperti sekarang, instrumen pengasuhan asrama harus diperkuat tanpa mengurangi nilai salafiyah-nya.

Kiai Haekal menilai program Sambang Pesantren ini sangat tepat untuk merawat akar sejarah organisasi. Program ini mempertemukan pemikiran lintas sektoral, mulai dari pelatihan psikologi pendamping santri hingga digitalisasi dakwah kaum sarungan.

“Nilai-nilai mulia inilah yang harus senantiasa kita resapi, rawat, dan laksanakan, mengingat Nahdlatul Ulama secara historis lahir dari rahim pesantren. Menjaga keamanan dan kenyamanan santri dalam tafaqquh fiddin (memperdalam ilmu agama) berarti kita sedang menjaga masa depan NU,” pungkasnya.

Kontributor: HR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

STAINU Purworejo Jalin Kerja Sama Akademik dengan Hartford International University AS

24 Agustus 2026 - 09:10 WIB

Upgrading Pengurus MWCNU Kutoarjo, Ketua PCNU Purworejo Tegaskan 3 Kewajiban Pengurus NU: Amanat, Keutuhan, dan Pertanggungjawaban

24 Agustus 2026 - 08:46 WIB

Meneladani Akhlak Nabi, Warga Ketaon Semarakkan Maulid di Masjid Miftahul Ishlah

19 Agustus 2026 - 22:08 WIB

Maulid Nabi di Winonglor, Sirah Nabawiyah Disampaikan Lewat Suluk Dalang Santri

19 Agustus 2026 - 18:49 WIB

Dari Kemadulor, MWCNU Kutoarjo Serukan Warga NU Ikut Ngopeni Negeri

19 Agustus 2026 - 17:38 WIB

MWC NU Pituruh Gelar Donor Darah Rutin, Wujud Kepedulian Sosial kepada Masyarakat

19 Agustus 2026 - 15:28 WIB

Trending di Berita