PURWOREJO – Di usia 65 tahun, semangat Hj. Komsiyah dalam menekuni kerajinan anyaman bambu masih terlihat kuat. Perempuan asal Desa Winong Kidul, Kecamatan Gebang, yang kemudian menetap di Desa Winong, Kecamatan Kemiri, mengikuti suaminya, hingga kini masih aktif menganyam berbagai motif plafon dan dinding bambu.
Beberapa motif yang dikerjakannya antara lain motif Menyan Kobar, Kembang Pucung, serta berbagai model anyaman lain yang banyak digunakan untuk plafon maupun dinding rumah bambu. Saat ditemui di kediamannya, Hj. Komsiyah tampak sederhana dan sedikit malu-malu saat menceritakan perjalanan hidupnya.

“Saya sudah terbiasa menganyam sejak masih muda. Sampai sekarang masih saya kerjakan karena ini juga menjadi mata pencaharian keluarga dan warga sekitar,” tutur Hj. Komsiyah, saat ditemui di rumahnya, Ahad, (31/5).
Kesuksesan yang diraih Hj. Komsiyah tidak datang secara instan. Pada masa kejayaan usaha anyaman bambu, ia dikenal rajin menabung dari hasil kerjanya. Di tengah kesibukan mengembangkan usaha, ia bersama suaminya juga harus membiayai enam anak untuk menempuh pendidikan, sebagian besar di pondok pesantren Ringin Agung, Kediri, Jawa Timur, dan sebagian lainnya di Purworejo.
Ketekunan dan kedisiplinannya dalam mengelola keuangan akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 2016, ia mendapat panggilan untuk menunaikan ibadah haji. Namun, cobaan datang ketika sang suami meninggal dunia menjelang keberangkatannya. Setelah menyelesaikan masa idah, Hj. Komsiyah tetap berangkat ke Tanah Suci meski tanpa mengikuti manasik haji secara lengkap.
“Waktu itu sedih karena suami meninggal dunia. Tetapi saya tetap menjalankan niat berangkat haji setelah masa idah selesai. Saya yakin semua sudah menjadi jalan yang diberikan Allah,” kenangnya.
Sepulang dari ibadah haji, semangatnya tidak surut. Ia kembali menekuni profesinya sebagai bandar sekaligus perajin anyaman bambu. Melalui usahanya, Hj. Komsiyah turut memberdayakan masyarakat Desa Winong dengan menyediakan lapangan pekerjaan di sektor kerajinan bambu, meskipun persaingan usaha saat ini semakin ketat.
Produk anyaman plafon bambu yang dihasilkan dapat dibuat sesuai pesanan atau ukuran yang diinginkan pelanggan. Hingga kini, lingkungan tempat tinggalnya masih dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan bambu kepang dan plafon bambu di Kabupaten Purworejo.
Jangkauan pemasaran produknya pun cukup luas. Banyak pedagang anyaman dari Kebumen, Yogyakarta, Kalijambe, hingga Kendal yang datang untuk mengambil barang dagangannya. Hal tersebut menjadi bukti bahwa kualitas kerajinan yang dihasilkan masih dipercaya pasar.
“Alhamdulillah sampai sekarang masih ada pelanggan dari berbagai daerah. Yang penting tetap menjaga kualitas dan kepercayaan,” ujarnya.
Di balik kesederhanaannya, Hj. Komsiyah menunjukkan bahwa kerja keras, ketekunan menabung, dan semangat untuk terus berkarya mampu mengantarkan seseorang meraih cita-cita, termasuk menunaikan ibadah haji. Semangatnya dalam mempertahankan warisan kerajinan bambu sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar menjadi teladan yang patut diapresiasi oleh berbagai kalangan.
Secara kekeluargaan, almarhum suaminya juga masih memiliki hubungan sepupu dengan almagfurlah KH. Toifur Mawardi. Kedekatan hubungan tersebut terlihat ketika semasa hidupnya, KH. Toifur Mawardi hampir setiap Hari Raya Idulfitri menyempatkan diri untuk bersilaturahmi ke kediaman keluarga Hj. Komsiyah.








