GEBANG, – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Mushola Al-Ikhlas, Desa Winonglor, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, Selasa (18/8/2026), berlangsung dengan nuansa berbeda. Di hadapan ratusan jamaah, sirah nabawiyah disampaikan melalui pendekatan ngaji budaya dengan lantunan suluk khas dalang santri.
Pendekatan tersebut dihadirkan oleh Kiai Ahmad Hanafi, Ketua Lesbumi PCNU Kabupaten Purworejo sekaligus Ketua Rijalul Ansor. Melalui perpaduan antara tausiyah, sejarah Nabi, dan seni tradisional, Kiai Hanafi mengajak jamaah mengenal sosok Rasulullah SAW tidak hanya melalui uraian keagamaan, tetapi juga melalui khazanah budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Puncak ngaji budaya berlangsung ketika Kiai Ahmad Hanafi melantunkan suluk yang mengawali kisah tentang kelahiran Rasulullah SAW.
“Wulan Maulud, wulan lahire Kanjeng Nabi Muhammad bin Abdullah…”
Lantunan suluk tersebut menjadi bagian yang menarik dalam rangkaian Maulid. Nuansa seni tradisional berpadu dengan materi sirah nabawiyah, menghadirkan cara dakwah yang komunikatif sekaligus mempertahankan kekayaan budaya lokal.
Dalam tausiyahnya, Kiai Ahmad Hanafi menegaskan bahwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW merupakan sumber keteladanan dan kebaikan bagi seluruh alam. Karena itu, peringatan Maulid tidak berhenti pada peringatan kelahiran Nabi, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenang sejarah, perjuangan, akhlak, serta keteladanan beliau.
Menurutnya, kebudayaan dapat menjadi salah satu medium untuk menyampaikan pesan-pesan keislaman. Seni tradisional, termasuk suluk yang dikenal dalam dunia pedalangan, dapat digunakan untuk membawa pesan sejarah dan nilai-nilai keteladanan Nabi agar lebih dekat dengan masyarakat.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Ketua Tanfidziyah PRNU Winonglor, Kiai Makfi. Sementara itu, Rais Syuriyah PRNU Winonglor yang juga Kepala Desa Winonglor, Kiai Abdul Kharis, memanfaatkan momentum Maulid untuk berpamitan kepada masyarakat.
Di hadapan jamaah, Kiai Abdul Kharis menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh warga atas berbagai kekurangan selama menjalankan amanah sebagai kepala desa. Penyampaian tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan menjadi bagian lain dari momentum refleksi bersama dalam kegiatan Maulid Nabi.
Kehadiran para pengurus NU tingkat ranting, tokoh masyarakat, dan ratusan jamaah menjadikan peringatan Maulid di Mushola Al-Ikhlas bukan sekadar kegiatan keagamaan tahunan. Forum tersebut juga menjadi ruang silaturahmi, refleksi, dan penguatan dakwah yang memadukan nilai-nilai keislaman dengan kekayaan budaya masyarakat.
Melalui ngaji budaya dan suluk dalang santri, kisah Rasulullah SAW kembali dihadirkan dalam bahasa kebudayaan yang akrab dengan masyarakat. Sebuah ikhtiar untuk merawat tradisi sekaligus menjadikan kebudayaan sebagai jalan untuk semakin mengenal dan meneladani Kanjeng Nabi Muhammad SAW.







