PURWOREJO – Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-76 Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Purworejo berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan pada Ahad, 24 Mei 2025, di Aula NU Center Purworejo. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan Pengurus Anak Cabang (PAC), ranting, pengurus cabang, serta kader Fatayat NU dari berbagai wilayah di Kabupaten Purworejo.
Turut hadir pula para ketua Fatayat NU Purworejo dari masa ke masa, yakni Nyai Isfihani, Nyai Hj. Mukromah Tamid, dan Nyai Muniroh. Sementara itu, Nyai Rr. Nurul Qomariyah yang sedang berada di Tanah Suci Mekkah turut mengirimkan doa dan dukungan bagi keberlangsungan perjuangan Fatayat NU.

Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Purworejo, Yusriana Azizah, dalam sambutannya menegaskan bahwa tema Harlah ke-76 tahun ini adalah “Berdaya, Berdampak, dan Mendunia.” Menurutnya, harlah bukan hanya seremoni tahunan, melainkan momentum penting untuk merefleksikan perjalanan organisasi dalam menjaga nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus memperkuat peran perempuan muda menghadapi tantangan zaman.
“Harlah Fatayat bukanlah sekadar seremonial tahunan saja, namun momentum refleksi perjalanan panjang organisasi kita dalam menjaga Islam Aswaja sekaligus wadah untuk memperkuat peran perempuan muda dalam menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks,” ujar Yusriana.
Ia juga mengajak seluruh kader menjadikan peringatan harlah sebagai semangat meningkatkan kapasitas diri, mempererat ukhuwah, dan memperluas manfaat di tengah keluarga, masyarakat, organisasi, maupun dalam berkarya.
Pembina Fatayat NU Kabupaten Purworejo, Hj. Muhibatul Karimah, turut memberikan pesan kepada seluruh kader agar momentum harlah menjadi pijakan untuk terus berkembang dan memperkuat solidaritas organisasi.
“Jadikan peringatan ini sebagai titik tolak untuk meningkatkan kapasitas diri, mempererat ukhuwah, dan menjadi wanita tangguh dalam menebar manfaat yang lebih luas di tengah keluarga, masyarakat, organisasi, dan dalam berkarya,” pesannya.
Sebagai puncak acara, peringatan Harlah ke-76 Fatayat NU Purworejo ditandai dengan prosesi potong tumpeng yang berlangsung penuh rasa syukur dan kebersamaan. Momen tersebut menjadi simbol harapan agar Fatayat NU semakin solid, berdaya, berdampak, serta terus mencetak generasi perempuan tangguh, berakhlak mulia, dan memperoleh ridha Allah SWT dalam setiap pengabdian.








