Menu

Mode Gelap
Digebuk Satu Twit Viral Harlah ke-76 Fatayat NU Purworejo, Perkuat Peran Perempuan Muda yang Berdaya dan Berdampak Karnaval Becak hingga Mujahadah Asmaul Husna Warnai Milad XVII MI Takhassus Ma’arif NU Prapagkidul Ubah Sampah Jadi Berkah hingga Go Digital, Puluhan Pesantren NU di Purworejo Ikuti Sarasehan RMI NU PMII Imam Puro Gelar Sekolah Aswaja 2026, Cetak Trainer Ideologi di Era Digital Ngaji Budaya Wayang Santri di MWCNU Kutoarjo Kupas Filosofi Lir-Ilir

Opini

Digebuk Satu Twit Viral

badge-check


					Digebuk Satu Twit Viral Perbesar

Kita sudah sering banget mendengar maqolah: Al-haqqu bila nidzamin yaghlibuhul bathil binidham. Kebaikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir. Saking seringnya mendengar kalimat itu, kadang lupa meresapinya. Sebagai sebuah organisasi yang besar kita ini nggak kompak-kompak. Sukanya jalan sendiri-sendiri.  Sampai akhirnya, realitas hari ini menampar kita dengan keras.

Akhir-akhir ini, jagat media sosial kita riuh oleh berita negatif yang menyudutkan NU dan pesantren. Dua institusi yang tidak bisa dipisahkan. Sebagai warga Nahdliyin, respons kita macam-macam. Ngelus dada, sedih, tidak sedikit juga yang akhirnya marah-marah. Pikir kita, “Luar biasa sekali effort orang-orang yang benci NU ini untuk menghabisi kita.” Lalu, apakah diam, ngelus dada dan marah-marah itu jadi solusi terbaik?

Mari kita bedah jeroannya. Informasi di era digital ini bukan lagi sebuah kebetulan. Ia adalah industri yang sangat terorganisir. Ada rangkaian sistematis di sana. Mulai dari mengumpulkan data, mengelola dan mengolah isu, menajamkan sudut pandang, hingga mendistribusikannya secara masif. Ketika manajemen informasi ini digarap dengan rapi, hantaman narasi negatif itu bisa datang menderu-deru. Konsisten. Nggak ada habisnya. Bener-bener bikin kuwalahan.

Dampaknya? Terjadi anomali yang sangat memprihatinkan.

Bayangkan, Pesantren telah melahirkan jutaan santri dengan khidmah yang luar biasa. Mereka ada di mana-mana. Menjadi kiai, menjadi guru, menduduki posisi strategis dan berkhidmah di pemerintahan dari desa hingga nasional, menjadi pedagang, hingga menjadi olahragawn. Kontribusi nyata ini mendadak luluh lantak karena digebuk oleh satu atau dua berita negatif yang viral.

Kita kalah oleh informasi lawan yang lebih terorganisir.

Memang sudah saatnya kita sadar. Mengorganisasi informasi di tubuh NU kini levelnya sudah sama wajibnya dengan mengorganisasi kegiatan struktural lainnya. Potensi kita itu raksasa. Ambil contoh di Kabupaten Purworejo saja. Dalam satu akhir pekan, ada berapa puluh bahkan ratusan pengajian yang digelar oleh NU dan banom-banomnya? Kita tidak pernah kekurangan bahan cerita. Apa kita sudah cukup memberitakan?

Pada tahapan mengolah informasi, kita terlalu sering terjebak pada formalitas seremonial. Kalau bikin berita, isinya selalu: acara dihadiri oleh siapa, dimulai jam berapa, dan selesai jam berapa. Kaku. Kita butuh bergeser ke angle yang lebih substantif. Cari cerita-cerita inspiratif di balik layar. Apa pesan mendalam dari kiai yang menyejukkan hati? Bagaimana perjuangan jemaah yang dengan tulus nyengkuyung acara tersebut? Apa dampak sosial bagi masyarakat sekitar? Jangan hanya berhenti pada formalitas kegiatannya, tapi harus bisa mengeluarkan isinya.

Setelah kontennya jadi, bagaimana dengan distribusinya? Pada tahapan ini kekuatan kita sebenarnya tidak main-main. Grup WhatsApp warga NU itu jumlahnya tak terhitung. Mengakar sampai ke bawah. Jika informasi yang baik ini disebar secara berjenjang, dari pengurus cabang, turun ke MWC, melipir ke grup-grup kultural, hingga ke grup pengajian, efeknya akan dahsyat. Luar biasa dahsyat.

Menghadapi narasi negatif tidak perlu selalu dengan hal negatif juga. Buang-buang energi. Kita hanya perlu konsisten dan istiqomah mengabarkan kebaikan. Banjiri saja dunia digital dengan narasi yang positif. Jika ruang informasi kita sudah penuh dengan hal baik, maka dengan sendirinya anak-cucu kita akan mendapat asupan informasi yang sehat. Generasi muda akan mendapat inspirasi yang bermanfaat. Kebatilan yang terorganisir itu akan tenggelam dengan sendirinya karena kehabisan panggung. Kalah dengan kebaikan yang juga sudah terorganisir.

Workshop LTN kemarin?

Momen untuk menebalkan niat, menguatkan barisan dan bahu membahu dalam mengabarkan kebaikan. Kita sama-sama tahu, keburukan-keburukan akan terus ada bukan karena banyaknya orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Lautan Jamaah Padati Alun-alun, Kutoarjo Bersholawat Penuh Kekhusyukan

7 Juli 2025 - 22:47 WIB

Sambut 1 Muharram 1447 H, PAC GP Ansor Kutoarjo Gelar Selapanan Rutin Rijalul Ansor

26 Juni 2025 - 15:55 WIB

Dinamika

15 Januari 2020 - 11:32 WIB

Trending di Opini