Menu

Mode Gelap
Ngaji Budaya Wayang Santri di MWCNU Kutoarjo Kupas Filosofi Lir-Ilir Pelantikan MWCNU Kutoarjo dan Muslimat NU Semawung Kembaran Teguhkan Komitmen Khidmah dan Kemanfaatan bagi Masyarakat Ansor Goes to Japan! Program Baru PC Ansor Purworejo Bidik Peluang Kerja Internasional Atap Rumah Sahabat Ansor Runtuh, Tim Media NU Purworejo Ajak Masyarakat Ulurkan Tangan Dari Desa untuk Kemandirian: Ikhtiar LAZISNU Purworejo Menumbuhkan Harapan Warga Kedungloteng PCNU Purworejo Berangkatkan Kader Muda Ikuti Workshop Jurnalistik Filantropi Se-Kedu Raya

Berita

Menolak Usulan Sekolah 5 Hari Kerja: Demi Keutuhan Nilai Agama dan Budaya Lokal

badge-check


					Menolak Usulan Sekolah 5 Hari Kerja: Demi Keutuhan Nilai Agama dan Budaya Lokal Perbesar

Purworejo Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Purworejo secara tegas menyatakan penolakan terhadap usulan pemberlakuan sekolah dengan sistem lima hari kerja atau full day school. Usulan tersebut dinilai tidak berpihak kepada kepentingan pelajar di akar rumput, terutama dalam konteks kehidupan sosial-keagamaan dan budaya lokal yang selama ini telah mengakar kuat di masyarakat Kabupaten Purworejo, Selasa (22/07/2025)

An’im Falahudin Ketua PC IPNU Purworejo, dalam keterangannya menyatakan,
“Kami khawatir kebijakan lima hari sekolah akan berdampak buruk terhadap keberlangsungan aktivitas keagamaan dan pendidikan nonformal, seperti madrasah diniyah, TPQ, hingga kegiatan keagamaan di mushola dan masjid desa. Selama ini, sore hari adalah waktu krusial bagi generasi muda kami untuk belajar agama dan menumbuhkan karakter spiritual yang kuat.”

Hal senada disampaikan Debi Saktiyani Ketua PC IPPNU Purworejo:
“Kebijakan ini berpotensi memutus tradisi pendidikan agama yang telah berjalan turun-temurun. Pelajar perempuan di pedesaan memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai lokal dan adab keislaman melalui jalur pendidikan sore. Jika sore hari tersita oleh kelelahan akibat sekolah lima hari penuh, maka ruang pembinaan akhlak akan hilang.”

IPNU-IPPNU menilai, sistem sekolah lima hari hanya memindahkan beban tanpa solusi. Kualitas pendidikan tidak serta-merta meningkat hanya karena waktu belajar lebih padat. Justru yang dibutuhkan adalah sinergi antara pendidikan formal dan nonformal yang saling menguatkan.

Selain aspek keagamaan, penolakan ini juga mempertimbangkan dimensi sosial-budaya. Banyak kegiatan tradisional dan lokal seperti pengajian remaja, latihan hadrah, karawitan pelajar, hingga pembelajaran budaya lokal yang terselenggara di luar jam sekolah pada hari Sabtu atau sore hari. Dengan sistem lima hari kerja, ruang aktualisasi budaya dan ekspresi kearifan lokal akan semakin sempit.

PC IPNU IPPNU Kabupaten Purworejo mendorong agar pemerintah tidak gegabah dalam mengambil kebijakan yang bersifat nasional namun abai terhadap konteks lokal. Kami menyerukan agar pendekatan kebijakan pendidikan berbasis kultural dan spiritual terus dikedepankan. Indonesia bukan hanya Jakarta. Dan pendidikan bukan hanya soal angka dan jam belajar, melainkan juga karakter, akhlak, dan keberlanjutan warisan nilai-nilai luhur bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ngaji Budaya Wayang Santri di MWCNU Kutoarjo Kupas Filosofi Lir-Ilir

3 Mei 2026 - 23:57 WIB

Pelantikan MWCNU Kutoarjo dan Muslimat NU Semawung Kembaran Teguhkan Komitmen Khidmah dan Kemanfaatan bagi Masyarakat

3 Mei 2026 - 22:24 WIB

Ansor Goes to Japan! Program Baru PC Ansor Purworejo Bidik Peluang Kerja Internasional

3 Mei 2026 - 19:12 WIB

Atap Rumah Sahabat Ansor Runtuh, Tim Media NU Purworejo Ajak Masyarakat Ulurkan Tangan

1 Mei 2026 - 14:12 WIB

Dari Desa untuk Kemandirian: Ikhtiar LAZISNU Purworejo Menumbuhkan Harapan Warga Kedungloteng

29 April 2026 - 11:05 WIB

PCNU Purworejo Berangkatkan Kader Muda Ikuti Workshop Jurnalistik Filantropi Se-Kedu Raya

28 April 2026 - 18:49 WIB

Trending di Berita