Kutoarjo, Warta Nahdliyyin – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kutoarjo sukses menyelenggarakan Konferensi MWCNU Kutoarjo Tahun 2025 pada Rabu, 3 Desember 2025, bertempat di Masjid Baitul Muhtadin, Tursino, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo. Mengusung tema “Revitalisasi Khidmah Jam’iyyah Menuju Umat Berdaya,” konferensi ini berlangsung khidmat, tertib, dan penuh semangat kolaborasi antarstruktur jam’iyyah.
Acara dihadiri oleh Rois Syuriah PCNU Purworejo KH. R. Dawud Masykuri, Ketua Tanfidziyah PCNU Purworejo KH. M. Haekal, S.Pd.I beserta jajaran (M. Churdaini dan H. Fatkhurrohman), Forkopimcam Kutoarjo, pengurus MWCNU Kutoarjo lengkap Syuriah dan Tanfidziyah, serta Pengurus Ranting NU se-Kecamatan Kutoarjo yang hadir dari 26 ranting. Hadir pula badan otonom seperti Muslimat, Fatayat, GP Ansor, IPNU, dan IPPNU, serta para Nahdliyin.

Acara dimulai pukul 20.00 WIB dengan registrasi peserta, dilanjutkan pembacaan Kalam Ilahi dan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta Mars Syubbanul Wathan.
Pada sesi Khutbah Iftitah, Kyai Fauzi Ahmad Sahin, Rois Syuriah MWCNU Kutoarjo masa khidmat 2020-2025, menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi mendalam atas dedikasi para pengurus MWCNU dan seluruh ranting selama masa khidmat 2020–2025.
Beliau menegaskan pentingnya semangat berjam’iyyah, karena kekuatan dan pertolongan Allah hanya akan hadir bersama jamaah. Beliau mengutip pesan Nabi, “‘Alaikum bil jamā‘ah fainna yadallāh ma‘al-jamā‘ah,” yang menegaskan bahwa keberkahan Allah menyertai kebersamaan.
Kyai Fauzi juga mengajak seluruh hadirin untuk senantiasa istiqamah dalam manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyyah, sembari mengutip sabda Rasulullah SAW: “‘Alaikum bisunnatī wa sunnati al-khulafā’ ar-rāsyidīn al-mahdiyyīn.” Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa khidmah NU harus berlandaskan tradisi keilmuan dan moderasi yang diwariskan para ulama.
Ketua Panitia, Jazim Fauzi menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus terima kasih kepada seluruh hadirin dan panitia serta pihak yang telah bekerja keras mempersiapkan konferensi. Ia menjelaskan bahwa tema “Revitalisasi Khidmah Jam’iyyah Menuju Umat Berdaya” mengandung pesan penting bahwa:
- NU harus terus memperbarui diri agar lebih relevan, adaptif, dan membawa kemanfaatan,
- Khidmah tidak boleh stagnan, harus merespons perubahan sosial, budaya, dan ekonomi,
- Umat adalah pusat orientasi; program NU harus menghasilkan masyarakat yang kuat, sejahtera, dan terlindungi dari radikalisme, hoaks, dan perpecahan,
- MWCNU harus menjadi motor penggerak pemberdayaan, bukan hanya penyelenggara kegiatan seremonial.
Sambutan Camat Kutoarjo turut menguatkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan NU. Acara pembukaan kemudian ditutup oleh Rois Syuriah PCNU Purworejo KH. R. Dawud Masykuri yang sekaligus membuka agenda musyawarah secara resmi.
Agenda persidangan dimulai dengan pembahasan tata tertib, penyampaian LPJ pengurus 2020–2025, dan pandangan umum. Selanjutnya peserta sidang memasuki Rapat Komisi, terdiri dari Komisi A (Program Kerja) dan Komisi B (Rekomendasi). Hasil pembahasan komisi dipresentasikan oleh masing-masing juru bicara, kemudian diserahkan kepada PCNU Purworejo. Setelah itu dilakukan pendemisioneran pengurus periode 2020–2025.
Sidang Pleno Pemilihan Pengurus MWCNU berlangsung dengan tetap menjunjung tinggi mekanisme AD/ART, adab jam’iyyah, dan musyawarah mufakat.
Tahapan pemilihan meliputi:
a) Pemilihan anggota AHWA
b) Musyawarah AHWA untuk memilih Rois Syuriah
c) Pemilihan Ketua Tanfidziyah
Pada konferensi tahun ini, peran pengurus ranting sangat dominan. Ketua Tanfidziyah terpilih melalui musyawarah mufakat seluruh 26 ranting NU se-Kutoarjo, sehingga mencerminkan soliditas dan kehendak bersama.
Adapun susunan pengurus terpilih Kyai Fauzi Ahmad Sahin sebagai Rois Syuriah dan KH. Ahmad Wahidin, S.Pd.I sebagai Ketua Tanfidziyah. Keduanya Kembali terpilih setelah mengemban amanah sebagai pengurus MWCNU Kutoarjo pada masa khidmat sebelumnya.
Dalam sambutan perdananya, kedua tokoh ini menegaskan komitmen untuk memperkuat konsolidasi struktural, memperkaya program pemberdayaan, dan memastikan MWCNU hadir sebagai solusi bagi umat.
Setelahnya dibentuk Tim Formatur untuk menyusun struktur lengkap kepengurusan periode 2025–2030.
Konferensi ditutup dengan doa oleh Kyai Ahmad Dahri Ma’shum, kemudian seluruh peserta melaksanakan mushafahah sebagai simbol tekad menjaga kekompakan jam’iyyah dan memperkuat khidmah keumatan di masa khidmat yang baru.
Konferensi MWCNU Kutoarjo 2025 menjadi momentum strategis untuk memperkuat revitalisasi khidmah, meneguhkan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyyah, serta merumuskan langkah pemberdayaan umat yang lebih terarah.
Tim LTN PCNU Purworejo






