Dalam memenuhi permintaan pasar, Misdiyono kerap menggandeng perajin dari sejumlah kecamatan lain seperti Bener, Loano, dan Kemiri.

Kolaborasi itu dilakukan terutama saat menerima pesanan dalam jumlah besar.
Namun di balik keberhasilannya, ia mengakui masih menghadapi tantangan, terutama keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan anyaman tingkat lanjut.
“Sebagian warga sekitar baru bisa membuat besek dan kepang, sementara pasar sekarang menginginkan produk yang lebih variatif seperti basket laundry. Jadi perlu pelatihan dan pendampingan agar keterampilan mereka meningkat,” katanya.
Tak hanya fokus pada usaha, Misdiyono juga aktif berbagi ilmu. Ia kerap diundang berbagai sekolah mulai tingkat SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi untuk mengisi kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Dalam kegiatan tersebut, ia mengenalkan potensi bambu sebagai produk kreatif sekaligus media pembelajaran kewirausahaan dan pelestarian budaya lokal.
Pengalamannya sebagai narasumber bahkan telah membawanya ke berbagai kota seperti Jakarta, Semarang, Tegal, Kebumen, dan sejumlah daerah lainnya. Kehadirannya memberikan inspirasi bahwa kerajinan tradisional tetap memiliki masa depan jika dikembangkan dengan inovasi dan semangat belajar.
Terbaru, Misdiyono mengikuti Training of Trainer (TOT) Nasional di Denpasar, Bali. Dalam pelatihan tersebut, ia mempelajari pengelolaan bambu dari hulu hingga hilir secara berkelanjutan.








