Dari pelatihan itu, ia kini mampu mengolah limbah bambu menjadi biochar dan asap cair, produk ramah lingkungan yang memiliki banyak manfaat bagi pertanian dan pengelolaan lingkungan. Inovasi tersebut menjadi langkah nyata dalam memaksimalkan potensi bambu tanpa menyisakan limbah produksi.
Bagi Misdiyono, bambu bukan sekadar bahan kerajinan, melainkan bagian dari warisan budaya dan sumber ekonomi masyarakat yang perlu dijaga keberlangsungannya.

“Kalau bambu dikelola dengan baik, manfaatnya sangat besar. Tidak hanya menghasilkan produk kerajinan, tetapi juga bisa mendukung ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” tuturnya.
Ketekunan Misdiyono menjadi bukti bahwa usaha berbasis kearifan lokal mampu berkembang dan bersaing di era modern.
Dari Desa Winonglor, ia menghadirkan inspirasi bahwa kreativitas, kerja keras, dan kemauan belajar dapat membuka jalan menuju pasar yang lebih luas, bahkan hingga mancanegara.*







