Menu

Mode Gelap
Jamaah Haji KBIHNU Ziarah Jannatul Ma’la Lailatul Ijtima’ MWC NU Pituruh di Dukuh Sitawon, Jamaah Tempuh Medan Ekstrem dengan Truk Berdayakan Perempuan, PAC Fatayat Purworejo Gelar Pelatihan Menjahit Bersama BLK Semangat Berbagi untuk Sesama, MWCNU Pituruh Sukses Selenggarakan Donor Darah dan Berhasil Himpun 26 Kantong Darah Sambut Muharram 1448 H, Muslimat NU Krendetan Gelar Selapanan dan Pengajian Bersama Kyai Choirul Anwar KH M. Yusuf Chudori: Jika 40 Hari Tidak Ngaji dan Tidak Berkumpul dengan Ulama, Hati Bisa Menjadi Keras

Berita

PCNU PURWOREJO HADIRI SARASEHAN PWNU DIY BERTAJUK “MENAKAR MASA DEPAN NU DAN PESANTREN DALAM MENYONGSONG AN NAHDLAH ATS TSANIYAH (KEBANGKITAN KEDUA)”

badge-check


					PCNU PURWOREJO HADIRI SARASEHAN PWNU DIY BERTAJUK “MENAKAR MASA DEPAN NU DAN PESANTREN DALAM MENYONGSONG AN NAHDLAH ATS TSANIYAH (KEBANGKITAN KEDUA)” Perbesar

Yogyakarta, (nupurworejo.com) – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY (PWNU DIY) menggelar acara sarasehan bertajuk “Menakar Masa Depan NU dan Pesantren Dalam Menyongsong An Nahdlah Ats Tsaniyah (Kebangkitan Kedua)” bertempat di Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta pada senin siang (22/3/2021). Sarasehan tersebut mengundang para kiai sepuh dari tiga kepengurusan wilayah, yaitu PWNU Jawa Timur, PWNU Jawa Tengah, serta PWNU DIY. Ketua Tanfidiyah PCNU Purworejo KH. Drs. Farid Solihin, M.MPd turut hadir dalam acara tersebut.

Baca Juga :

PAC ANSOR BAGELAN GELAR KONFERANCAB TAHUN 2021

PELETAKAN BATU PERTAMA PEMBANGUNAN GEDUNG MWC NU BENER, WUJUTKAN CITA-CITA WARGA NAHDLIYYIN

Para kiai NU yang hadir antara lain KH Ubaidillah Faqih (Langitan, Tuban), KH Abdussalam Shohib (Denanyar, Jombang), KH Abdul Hakim Mahfudh (Tebuireng, Jombang), KH Mu’adz Thohir (Kajen, Pati), KH Yusuf Chudlori ( Tegalrejo, Magelang), dan KH Adib Rofi’uddin (Buntet, Cirebon), dan sejumlah kiai lainnya.

Sarasehan tersebut menghadirkan empat narasumber. Yakni Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar, Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf, dan Yenny Wahid, putri Gus Dur.

Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengatakan, “tantangan era milenial dan realitas pasca pandemi telah membawa perubahan-perubahan sosial, budaya serta politik yang sangat fundamental. Ruang fisik bagi aktualisasi tradisi pun semakin menyempit.”

Di tengah situasi ini, menurut Gus Yahya, NU sebagai organisasi (jam’iyyah) membutuhkan penjernihan agar gesturnya bisa menghadirkan cita-cita dasar yakni khitthah Nahdliyyah secara lebih utuh.

“Tahliyatul jam’iyyah (menjernihkan organisasi) itu menuntut penegasan agenda-agenda dan penataan (tandhim) organisasi yang lebih rapi untuk menjalankan strategi secara koheren, padu dan terarah,” tandas Gus Yahya.

Menurut pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang ini, untuk mewujudkan harapan tersebut perlu sekurang-kurangnya tiga hal. “Visi masa depan yang valid, komitmen kepemimpinan yang kokoh, dan konstruksi (tandhim) organisasi yang koheren,” kata Gus Yahya.

Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh menekankan soal kebutuhan yang mendesak untuk mengonsolidasikan struktur kepengurusan NU hingga ke ranting-ranting. KH Ubaidillah mengusulkan perlunya mengakomodasi elemen-elemen kreatif yang saat ini masih di luar struktur.

“NU didirikan dalam rangka pertalian sanad ulama sehingga harus diambil alih jam’iah untuk menuju kemandirian dan penguatan MWC adalah kunci pembangunan NU”, ujarnya.

Sedangkan Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar menyoroti tiga kebutuhan mendasar bagi NU ke depan.

“Pertama, mengawal regenerasi kepemimpinan untuk memelihara kredibilitas NU di tengah masyarakat dengan melestarikan tradisi kitab kuning dan menjaga kepercayaan warga sebagai dasar pembentukan jam’iah yang kuat . Kedua, menyiapkan generasi penerus yang memadahi sehingga sehingga tidak muncul kaderisasi dari orang lain”, Ketiga, menghadirkan NU secara nyata dalam dinamika masyarakat dengan cara menjaga masyarakat dari intervensi kelompok lain dan selalu mengamalkan amaliyah nahdliyah serta mampu membentuk tim khusus untuk membela wibawa NU dan Pimpinan NU” jelasnya.

Di sisi lain, Yenny Wahid mengingatkan tantangan-tantangan NU yang muncul akibat berbagai macam disrupsi, baik teknologi maupun disrupsi akibat pandemi.

“NU dan Pesantren dapat mendampingi warga dalam menghadapi problematika kehidupan dan diharapkan mampu merespons disrupsi-disrupsi itu secara tepat dan strategis,” harap Yenny Wahid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jamaah Haji KBIHNU Ziarah Jannatul Ma’la

11 Juni 2026 - 08:13 WIB

Lailatul Ijtima’ MWC NU Pituruh di Dukuh Sitawon, Jamaah Tempuh Medan Ekstrem dengan Truk

8 Juni 2026 - 13:14 WIB

Berdayakan Perempuan, PAC Fatayat Purworejo Gelar Pelatihan Menjahit Bersama BLK

8 Juni 2026 - 13:10 WIB

Semangat Berbagi untuk Sesama, MWCNU Pituruh Sukses Selenggarakan Donor Darah dan Berhasil Himpun 26 Kantong Darah

8 Juni 2026 - 13:08 WIB

Sambut Muharram 1448 H, Muslimat NU Krendetan Gelar Selapanan dan Pengajian Bersama Kyai Choirul Anwar

8 Juni 2026 - 10:46 WIB

Pelantikan Tiga Banom NU Warnai Selapanan Ahad Kliwon MWCNU Kutoarjo

7 Juni 2026 - 21:40 WIB

Trending di Berita