MAGELANG – Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, KH M. Yusuf Chudori, mengingatkan pentingnya menjaga tradisi mengaji dan berkumpul dengan para ulama agar hati tetap lembut dan tidak mudah terjerumus dalam perbuatan dosa.
Pesan tersebut disampaikan dalam sebuah video yang diunggah melalui akun Facebook pribadinya @Gus Yusuf Channel. Dalam ceramahnya, kiai yang akrab disapa Gus Yusuf itu menjelaskan bahwa seseorang yang terlalu lama meninggalkan majelis ilmu berpotensi mengalami kekeringan spiritual.

“Ketika seseorang lebih dari 40 hari tidak mengaji dan tidak berkumpul dengan orang alim, hatinya bisa menjadi keras. Jika hati sudah keras, maka akan lebih mudah terjerumus ke dalam dosa-dosa besar,” pesannya (8/4/26).
Menurut Gus Yusuf, karena itulah para kiai dan nyai di berbagai daerah secara rutin mengadakan pengajian, minimal satu kali dalam setiap selapan atau 40 hari. Tujuannya agar masyarakat tetap memiliki kesempatan mendengarkan nasihat agama dan bertemu dengan para ulama.
“Minimal masyarakat desa setiap selapan sekali mau mengaji dan bertemu dengan orang alim agar hatinya tetap lembut dan tidak mudah tergelincir dalam kemaksiatan,” katanya.
Pesan tersebut sejalan dengan sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada wasiat Rasulullah SAW kepada Sayyidina Ali RA.
يَا عَلِيُّ، إِذَا مَضَى عَلَى الْمُؤْمِنِ أَرْبَعُوْنَ صَبَاحًا وَلَمْ يُجَالِسِ الْعُلَمَاءَ قَسَى قَلْبُهُ وَجَسُرَ عَلَى الْكَبَائِرِ لِأَنَّ الْعِلْمَ حَيَاةُ الْقَلْبِ
Artinya : Wahai Ali, jika melampaui empat puluh hari seorang mukmin tidak berkumpul dengan ulama (seperti tidak mau silaturahim dengan ulama, mendengarkan nasihat ulama, datang ke pengajian atau majelis ilmu para ulama) maka jadi keras hatinya dan berani untuk melakukan dosa-dosa besar. Karena sesungguhnya ilmu itu adalah kehidupan hati.











