PURWOREJO – Pepatah “kita yang mengusahakan, Allah yang menentukan, dan rezeki tidak akan tertukar” seakan sangat cocok menggambarkan perjalanan hidup Pak Amir, perajin mebel bambu asal Desa Kalijambe, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo. Di usianya yang tidak lagi muda, ia masih bertahan menekuni profesi yang telah membesarkan namanya sekaligus mengangkat kerajinan bambu Kalijambe hingga dikenal luas.
Pak Amir dikenal sebagai salah satu perintis kerajinan mebel bambu di Purworejo. Perjalanan usahanya bermula saat merantau ke Cibeureum, Bandung, Jawa Barat, sekitar tahun 1975.

“Ketika itu saya bekerja serabutan sampai akhir tahun 1980-an. Setelah itu ikut orang Bandung membuat kursi bambu,” kenang Pak Amir.
Selama kurang lebih dua tahun, ia bekerja sambil belajar dengan tekun mengenai teknik pembuatan mebel bambu. Bekal pengalaman tersebut kemudian menumbuhkan keyakinan untuk membuka usaha sendiri.
Pada tahun 1983, Pak Amir memutuskan pulang ke kampung halamannya di Kalijambe untuk mengembangkan potensi bambu yang melimpah di Purworejo. Saat itu harga satu batang bambu wulung sekitar Rp1.000. Untuk membuat satu set mebel bambu dibutuhkan sekitar 10 batang bambu, sehingga modal bahan baku berkisar Rp10.000. Sementara satu set mebel bambu dapat dijual dengan harga sekitar Rp21.000.








