Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo, KH Achmad Chalwani Nawawi, mengingatkan para santri agar senantiasa menjaga akhlak dan tidak sekali-kali menyepelekan guru yang telah mendidik mereka. Hal itu disampaikan saat memimpin prosesi wisuda pada puncak Haflah Khataman Akhirus Sanah ke-47 yang dirangkaikan dengan Khataman Al-Qur’an bin nadhar di kompleks pondok pesantren setempat, Sabtu (13/6/2026).
Kegiatan tersebut diikuti ribuan santri, wali santri, alim ulama, dan masyarakat. Acara diawali dengan prosesi khataman Juz ‘Amma bil hifdzi oleh para santri. Dalam tausiyahnya, Kiai Chalwani mengutip sebuah hadits dan mengingatkan dampak yang akan diterima oleh siapa saja yang berani meremehkan guru.

“Jangan sampai tidak hormat kepada guru. Saya ingat ada hadits menyatakan:
مَنِ اسْتَخَفَّ بِأُسْتَاذِهِ ابْتَلَاهُ اللهُ بِثَلَاثِ بَلِيَّاتٍ: كَلَّ لِسَانُهُ، وَنَسِيَ مَا حَفِظَ، وَافْتَقَرَ فِي آخِرِهِ.”
tutur Rais ‘Ali JATMAN tersebut di hadapan ribuan jamaah.
KH Achmad Chalwani Kupas Kitab an-Ni‘matu al-Kubra Kiai Chalwani kemudian menjelaskan makna hadits tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami.
“Kanjeng Nabi ngendiko, barang siapa menyepelekan guru, tidak hormat, meremehkan guru, maka Allah Swt. akan menimpakan tiga penyakit kepadanya. Satu, sulit untuk bicara. Yang kedua, cepat lupa apa yang dia sudah hafal. Yang paling ngeri yang ketiga, akhir hidupnya jadi orang yang hina dina,” tegasnya.
Menurut Kiai Chalwani, keberhasilan pendidikan pesantren sangat ditentukan oleh adab santri kepada guru. Ilmu yang dipelajari akan lebih mudah memberi manfaat apabila dibarengi dengan sikap hormat dan khidmah kepada para masyayikh.
Senada dengan itu, perwakilan wali santri, KH Sarjono, menekankan pentingnya menjaga kedisiplinan, menaati aturan pesantren, serta terus berkhidmah kepada kiai agar ilmu yang diperoleh menjadi berkah dan bermanfaat.
“Dalam menuntut ilmu, silakan bersungguh-sungguh. Namun, meskipun kalian sangat pintar, jika tidak menaati aturan pesantren dan guru, akan sangat sulit meraih ilmu yang manfaat dan berkah. Maka, setelah diwisuda, teruslah berkhidmah di pondok. Dengan menaati aturan guru, insyaallah kalian akan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat,” pesannya.
Pada kesempatan itu, Kiai Sarjono juga menyampaikan apresiasi kepada KH Achmad Chalwani Nawawi beserta seluruh asatidz yang telah membimbing para santri dengan penuh kesabaran.
“Berkat jerih payah KH Achmad Chalwani beserta para guru dan asatidz, anak-anak kami kini telah memahami hal-hal yang sebelumnya tidak mereka mengerti, khususnya mengenai ilmu agama. Alhamdulillah, anak-anak kami semua telah sampai di titik ini berkat para guru,” ungkapnya.
Prosesi wisuda santri kelas III Madrasah Diniyah Ulya dan kelas III Madrasah Diniyah Rabithah dipimpin langsung oleh KH Achmad Chalwani Nawawi yang sekaligus menyerahkan ijazah kelulusan kepada para wisudawan. Suasana haflah semakin meriah dengan pemberian penghargaan kepada santri berprestasi yang berhasil menyelesaikan hafalan dan mengkhatamkan Kitab Alfiyah Ibnu Malik dalam satu kali duduk.
Ketua Panitia Haflah, Muhammad Khoirul Anam, mengajak para santri untuk terus optimistis dan berani meraih cita-cita.
“Jangan takut untuk jatuh dan jika jatuh, jangan ragu untuk bangkit kembali. Mari kita menjadi orang-orang yang berani berkata pasti bisa. Pasti bisa untuk beribadah kepada Tuhan, untuk mewujudkan cita-cita bangsa, untuk keluarga, dan untuk almamater Pondok Pesantren An-Nawawi tercinta ini,” ujarnya.
Dalam mau‘idhah hasanah, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Husna Magelang, KH Muhsin Ghozali, memuji kelengkapan sistem pendidikan yang dimiliki Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan.
“Pesantren ini pesantren yang komplit, ada syariatnya, ada diniyahnya, ada Al-Qur’annya, dan juga ada thariqahnya,” tuturnya.
Kiai Muhsin juga mengingatkan pentingnya menjaga kehormatan ulama.
“Terdapat satu hikayat yang menjelaskan:
مَنْ أَهَانَ خَمْسَةً خَسِرَ خَمْسَةً: مَنْ أَهَانَ الْعُلَمَاءَ خَسِرَ الدِّيْنَ، وَمَنْ أَهَانَ الْأُمَرَاءَ خَسِرَ الدُّنْيَا، وَمَنْ أَهَانَ الْجِيْرَانَ خَسِرَ الْمَنْفَعَةَ، وَمَنْ أَهَانَ الْأَقْرِبَاءَ خَسِرَ الْمَوَدَّةَ، وَمَنْ أَهَانَ الْأَهْلَ خَسِرَ طِيْبَ الْمَعِيْشَةِ.
Barang siapa menghina ulama, maka ia rugi dalam urusan agamanya, barang siapa menghina umara’/pemerintah, maka ia rugi dalam urusan dunianya, barang siapa menghina tetangga, maka ia rugi karena kehilangan manfaat dari tetangganya, barang siapa menghina kerabat, maka ia rugi karena kehilangan kasih sayang/persaudaraan, dan barang siapa menghina keluarga/istri, maka ia rugi karena kehilangan kenyamanan dalam rumah tangganya,” tegasnya.
Haflah tersebut turut dihadiri Pengasuh Pondok Pesantren Al-Husna Magelang KH Muhammad Azhari Al-Hafidz, Ketua Yayasan An-Nawawi KHR Muhammad Maulana Alwi, Rektor IAI An-Nawawi Hj Ashfa Khoirun Nisa’, para alim ulama, wali santri, serta ribuan santri dari berbagai daerah.
Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin KH Muhammad Azhari Al-Hafidz untuk keberkahan ilmu para santri agar bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.











